Beranda PARIWISATA Harga Tiket Melonjak, Pemerintah Harus Segera Cari Solusi!

Harga Tiket Melonjak, Pemerintah Harus Segera Cari Solusi!

BERBAGI

NUSRAMEDIA.COM, MATARAM – Kondisi pariwisata NTB khususnya Lombok paska terjadinya gempa mengalami penurunan pada titik terendah dalam satu dekade ini.

Kondisi ini membuat para pelaku wisata hanya bisa pasrah. Upaya recovery yang di lakukan oleh pemerintah daerah bersama pemerintah pusat mendapat dukungan semua pihak.

Meski demikian mengembalikan kondisi pariwisata sebelum gempa tidak semudah membalikkan telapak tangan.

Kondisi ini makin di persulit dengan naiknya harga tiket serta adanya kebijakan bagasi berbayar.

Kondisi pariwisata yang masih tertatih tatih ini juga di rasakan oleh pemilik artshop tenunan di Desa Sukarare Kecamatan Jonggat Kabupaten Lombok Tengah.

Belasan pengusaha songket dan tenunan khas Lombok terpaksa tiarap. Miate pemilik Artshop Karunia pasrah dengan kondisi ini.

Berita Terkait:  Desa Wisata Genggelang Diresmikan

Ia menjelaskan sejak terjadinya gempa di ikuti penurunan drastis wisatawan yang datang ke daerah tersebut.

Kondisi ini ujar Miate di perparah dengan naiknya harga tiket dan adanya kebijakan bayar bagasi yang membuat tamu semakin sepi. Ia menegaskan penurunan tamu mencapai 99 persen.

Miate menjelaskan dari belasan arstshop yang ada di Sukarare kini hanya sebagian kecil yang masih aktif. Sisanya mereka memilih menutup usaha sambil menunggu adanya perubahan kondisi.

Miate mengatakan sejak gempa dan naiknya harga tiket serta adanya kebijakan maskapai memberlakukan charge bagasi omset yang di raih perbulan hanya 20 juta.

Jumlah ini kata Miate turun drastis saat kondisi sebelum gempa dimana para pemilik artahop bisa meraih omset hingga 300 juta rupiah.

Berita Terkait:  Tempat Wisata di Lombok Barat Bakal Dibuka Lagi

“Ini kondisi yang kami alami saat ini, sungguh kondisi yang sulit, pada awal awal gempa masih ada tamu yang datang dimana sebagian besar adalah para relawan, tetapi sejak kejadian Palu dan Banten dan naiknya harga tiket tidak ada satupun tamu yang datang belanja,” ujarnya pasrah.

Hal senada juga di sampaikan Amin pemilik Patuh Artshop. Sejak pemberlakuan bagasi berbayar dan tingginya harga tiket memaksa pengusaha artshop tiarap.

Ia berharap pemerintah memperhatikan kondisi para pengusaha tenun ini. Amin juga meminta pemerintah melakukan intervensi ke maskapai untuk menurunkan harga tiket.

Ia mengaku sejak naiknya harga tiket tersebut banyak tamu yang membatalkan kedatangannya ke Lombok.

Berita Terkait:  Revitalisasi Bumi Sasar Gili Nanggu dan Pantai Cemare

“Pemerintah harus pro aktif mencari solusi harga tiket yang naik ini, bila perlu berikan subsidi tiket bagi tamu, ini saya rasa langkah riil karena akan membuat tamu datang,” ujarnya.

Amin juga mengatakan sebelum gempa rata rata artshop yang ada di Desa Sukarare mampu menjual 500 sampai 1000 lembar kain tenun dan songket.

Namun saat ini kondisinya jauh terbalik bahkan tidak terjual satu lembar songket. Amin dan Miate juga mengkritik kebijakan gubernur yang lebih memperhatikan program beasiswa di bandingkan mencari solusi untuk harga tiket.

Mereka berharap gubernur lebih memperhatikan nasib pelaku pariwisata yang kini mencoba bangkit paska bencana tersebut. (NM1)