Beranda SOSMAS Patut Dicontoh! Dulu Anak Ini Penerima PKH, Kini Jadi Pendamping Sosial

Patut Dicontoh! Dulu Anak Ini Penerima PKH, Kini Jadi Pendamping Sosial

BERBAGI

NUSRAMEDIA.COM, MATARAM — Lain dahulu, lain sekarang. Sagaf Wirantanus (23) berhasil meraih mimpi. Menjadi abdi negara, tepatnya menjadi Pendamping Sosial Program Keluarga Harapan Kementerian Sosial RI berdasarkan rekrutmen tahun 2019. Kemudian diitugaskan di Kecamatan Sekotong, Kabupaten Lombok Barat, Provinsi NTB hingga sekarang.

Dahulu, dua tahun silam orang tuanya Alwi dan Sri Megawati asal Dusun Sedayu Selatan Desa Kediri Selatan Kecamatan Kediri merupakan salah satu penerima Program Keluarga Harapan (PKH). Kini telah keluar dari kepesertaan PKH tepatnya pada awal tahun 2020 secara sukarela karena perubahan kondisi ekonomi keluarga sudah lebih baik dari sebelumnya.

Sagaf terbilang ‘bajang’ istilah Sasak, bagi lelaki yang masih muda dan belum menikah memiliki satu orang saudara perempuan bernama Restia (18) tidak pernah menyangka menjadi Pendamping Sosial PKH. Bergelut dengan urusan penanganan jaminan sosial untuk pengentasan kemiskinan antar generasi.

Pria kelahiran 13 Februari tahun 1997 itu pernah mengenyam pendidikan di SDN 1 Kediri, SMP 1 Kediri, dan SMA 1 Gerung Kabupaten Lombok Barat. Dia bisa masuk Perguruan tinggi melalui jalur SBMPTN dan Bidik Misi. Kemudian akhirnya bisa menyelesaikan kuliah pada tepat waktu. Kini menjadi salah satu alumnus Fakultas Kehutan Universitas Mataram.

Berita Terkait:  Ansori Ajak Masyarakat Sukseskan Program Vaksinasi COVID19

Dalam perjalanan tugas, Sagaf terkenal akrab bersama rekan sejawatnya. Jumlah dampingan sebanyak 251 Keluarga Penerima Manfaat (KPM). Kini Sagaf bisa merasakan bagaimana perjuangan para pendamping sosial mendampingi Keluarga Penerima Manfaat PKH seperti yang pernah mendampingi ibunya saat menjadi peserta PKH.

Kisah keluarganya menyertai kesuksesanya. Ibu memiliki usaha gorengan dan snack rumahan dan nyambi sebagai penjahit pakaian. Sedagkan sang ayah menekuni usaha dagang gorden. Semangat kekeluargaan terpatri dan memacu semangat untuk mengenyam dunia pendidikan bagi dirinya dan adiknya. Bahkan adik perempuannya telah diterima di Universitas Mataram, jurusan Kedokteran, melalui jalur Seleksi Nasional Masuk Perguruan Tinggi Negeri ( SNMPTN). Mengutip kata motivasi, “kesuksesan anak tergantung cara orang tua mendidiknya.”

Bercermin dengan kondisi keluarga, ia terus memotivasi peserta PKH, agar dapat mewujudkan mimpi masing- masing anaknya. Program PKH memilki jurus jitu dalam urusan pendampingan, Instrumen Pertemuan Peningkatan Kemampuan Keluarga (P2K2) sebagai media pembelajaran bersama, untuk mentransfer knowlage (pengetahuan) pada ibu-ibu keluarga prasejahtera, dengan maksud merubah cara berfikir dan perilaku hidup agar tidak terjerembab dalam kubangan yang sama.

Berita Terkait:  Bupati Fauzan Sebut Pemerintah Kerap Menjadi Korban

“Kalau cita cita, tidak terlalu saya pikirkan. Alhamdullilah lulus sebagai Pendamping dan saya menyukainya sebagai pekerja lapangan dan sosial,” ujar Sagaf saat diskusi online melalui media WhatsApp, Sabtu (22/8) kemarin.

Sementara, Kepala Bidang Perlindungan dan Jaminan Sosial (Linjamsos) Dinas Sosial Kabupaten Lombok Barat, Baiq Aprina Rohmawiyanti, SKM membenarkan bahwa, Sagaf Wirantanus merupakan SDM Pelaksana PKH, hasil rekrutmen tahun 2019, mulai bertugas tahun 2020. Sagaf adalah salah-seorang pendamping dari 26 Pendamping yang di tempatkan di Kecamatan Sekotong.

Jarak tempuh antara tempat tinggal dan lokasi kerja, tidak menyurutkan semangat pendamping untuk menekuni tugas sebagai Pilar Sosial PKH. “Sagaf dapat dijadikanimotivasi, bagi anak KPM PKH. Jika sudah menempuh Pendidikan tinggi, bisa meraih peluang mendaftarkan diri sebagai SDM PKH,” katanya.

Berita Terkait:  Karo Humas Paparkan Strategi Komunikasi Pemprov NTB

Sagaf adalah bukti bahwa kemiskinan harus dilawan. Dia percaya kalau kemiskinan itu menjadi tak terelakkan apabila orang miskin lebih banyak ‘miskin’ (baca: berdiam diri) yang pada akhirnya membuatnya tak berdaya secara ekonomi dengan (masih) beralibi : TAKDIR TUHAN.

“Bagi saya Sagaf adalah contoh orang yang mampu menginjeksi file-file kesadaran baru bagi dirinya, sembari terus berikhtiar menantang kemiskinan sebagai musuh yang harus dia lucuti,” Kata Kepala Dinas Sosial Provinsi NTB, H. Ahsanul Khalik S.Sos. MH kepada media ini, Ahad (23/8).

Menurutnya, Sagaf adalah contoh anak muda yang mengeluarkan dirinya dari zona aman, menyingkirkan rasa malas, malu, dan gengsi dan dia berhasil bangkit membangun relasi dan berkomitmen pada dirinya bahwa dia bisa keluar dari kemiskinan dengan kerja-kerja kreatif dan cerdas.

“Saya berharap anak-anak muda lainnya bisa mengambil tauladan dari Sagaf, karena dia yakin bahwa miskin bukanlah takdir (Tuhan) semata, melainkan konsekuensi dari mental miskin,” harapnya. (red)