Beranda SOSMAS Dua Bendungan di Sumbawa Alami Penyusutan Debit Air

Dua Bendungan di Sumbawa Alami Penyusutan Debit Air

BERBAGI

PSDA EFEKTIFKAN PIKET MALAM PEMBAGIAN AIR

NUSRAMEDIA.COM, SUMBAWA — Dua bendungan besar di Kabupaten Sumbawa yakni Batu Bulan dan Mamak mengalami penyusutan debit air di musim kemarau. Penyusutan ini terjadi sejak dua bulan terakhir. Meskipun demikian, saat ini ketersediaan air masih berada di atas elevasi ketinggian minimal.

Kepala Balai PSDA Wilayah Sungai Pulau Sumbawa Dinas PUPR Provinsi NTB, Med Manjarungi, S.T., M.T menyebutkan, debit air di Bendungan Batu Bulan yang tersedia berada pada elevasi ketinggian 57,78 meter. Sedangkan batas minimalnya 52 meter.

Sementara Bendungan Mamak yang tersedia berada pada elevasi ketinggian 82,91 meter, dengan batas minimal 75 meter. Sedangkan data sebelumnya pada Juni lalu, ketersediaan air di Batu Bulan pada elevasi ketinggian 58,88 meter dan Mamak ketersediaan air pada elevasi ketinggian 88,50 meter.

Berita Terkait:  Wakapolda NTB : Media Juga Memiliki Tanggungjawab Menenangkan Publik

Dijelaskannya, Air bendungan ini tidak bisa dikeluarkan jika berada pada ketinggian angka minimal. Karena jika kondisi itu terjadi, maka akan timbul retakan dan kerusakan pada bendungan. Hal inilah yang harus dicermati oleh masyarakat, baik pemakai air maupun masyarakat umum. Mengingat jika terjadi kerusakan, maka selamanya akan rusak.

“Artinya Kalau kita menjaga tetap air bendungan untuk tidak pada batas minimal 52 di Batu Bulan dan 75 di Mamak, maka bendungan itu bisa digunakan sepanjang tahun. Tapi apabila kita paksa pada batas minimal, maka tidak bisa digunakan selamanya,” ujarnya, Senin (24/8).

Berita Terkait:  KNPI NTB Apresiasi Semua Pihak Pilkada Berjalan Lancar

Diungkapkanya, sebelumnya pihaknya sudah melakukan pertemuan dengan stakeholder terkait dalam rangka mengantisipasi terjadinya kekeringan pada musim tanam kedua (MT 2) ini.

Karena masalah kekeringan sudah menjadi langganan di Kabupaten Sumbawa. Meskipun demikian kebutuhan air yang ada bisa terpenuhi apabila semua pihak berkomitmen mengikuti berita acara rapat pola tanam.

“Apabila mereka konsisten dengan pola tanam ini, maka air pasti terpenuhi. Karena kita sudah mengkalkulasi semua. Tetapi ada petani yang melaggar kesepakatan ini (pola tanam). Inilah yang menyebabkan terjadinya kekurangan air,” terangnya.

Berita Terkait:  Seniman NTB Didorong Terus Bersinergi

Namun yang menjadi kendala, lanjutnya, banyak petani yang melanggar aturan pola tanam. Kendala lainnya yakni adanya pelompong liar. Karenanya, stakeholder harus kuat dan harus kompak dalam menangani kekeringan di Sumbawa.

Selain itu, pihaknya juga melakukan penguatan terhadap Gabungan P3A dan P3A. Diharapkan peran P3K bersama kelompok tani dan anggota lebih kuat dan sinkron. Di sisi lain pihaknya juga mengevektifkan piket malam di lokasi pembagian air.

Karena meskipun air tercukupi setelah dikalkulasi, ada saja penyimpangan saat penyaluran. “Apabila disiplin dalam penyaluran air, otomatis tercukupi. Intinya disiplin,” pungkasnya. (red)