Beranda PERISTIWA Selain Sirene, NTB Pasang 80 Titik Rambu Jalur Evakuasi Tsunami

Selain Sirene, NTB Pasang 80 Titik Rambu Jalur Evakuasi Tsunami

BERBAGI
Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Provinsi NTB, H Ahsanul Khalik. (Foto Desain : Bobby Maramis)

NUSRAMEDIA.COM, MATARAM – BPBD NTB bekerjasama dengan BNPBmemasang 80 titik rambu jalur evakuasi tsunami di sepanjang pesisir pantai NTB.

Selain itu pula, bersama BMKG juga telah memasang sirene jika nanti terjadi tsunami. Sirene ini dipasang di beberapa titik yang dikendalikan dari kantor BPBD.

Demikian hal itu diungkapkan Kepala Pelaksana BPBD NTB, H Ahsanul Khalik kepada media ini, Ahad (14/7) di Mataram.

Dirincikannya untuk rambu yang terpasang itu, tersebar di sepanjang pesisir pantai wilayah Kecamatan Ampenan, Kota Mataram, kawasan Tiga Gili (Gili Trawangan, Meno dan Gili Air) di Kabupaten Lombok Utara (KLU), Lombok Tengah, Lombok Barat, Kabupaten Sumbawa Barat (KSB), Dompu, Kabupaten Bima, dan di Labuhan Haji Kabupaten Lombok Timur, berupa rambu penunjuk arah atau titik kumpul.

“Sudah (Terpasang, Red) 80 titik empat tahun lalu,” ujar pria yang akrab disapa Aka ini.

Berita Terkait:  Refleksi Makna NTB Gemilang di Tengah Takbir Idul Fitri

Diterangkannya, bahwa kegunaan rambu jalur evakuasi ini bersifat memudahkan masyarakat untuk mengungsi atau menentukan di mana titik kumpul manakala terjadi bencana atau hal hal yang tidak diinginkan.

“Ini bagian dari upaya penyelamatan sementara kalau terjadi tsunami, masyarakat diarahkan ke tempat yang lebih tinggi,” tuturnya.

Khusus di KLU, yakni di kawasan Tiga Gili, titik kumpulnya ada di Pelabuhan Bangsal di Pemenang. Sementara di wilayah lainnya difokuskan pada daerah ketinggian yang sudah ada rambu terpasangnya.

Selain pemasangan rambu jalur evakuasi, pemerintah hingga saat ini juga sudah membentuk 36 desa tangguh bencana di NTB.

Rinciannya, ada dua kelurahan di pesisir Kota Mataram yang tangguh terhadap bencana, yakni Jempongbaru di Kecamatan Sekarbela dan Kelurahan Ampenan Selatan di Kecamatan Ampenan.

Sedangkan di pesisir KLU terdapat di Desa Pemenang Barat, Gili Indah, Desa Pemenang dan Desa Bentek di Kecamatan Gangga.

Berita Terkait:  Dihadapan RI-1, Danrem Paparkan Semua Proses Rehab Rekon

Kemudian, di Kabupaten Lombok Barat desa pesisir yang tangguh bencana terdapat di Desa Senteluk, Kecamatan Batulayar, Desa Lembar Selatan, Labuan Terang, Desa Guntur Macan, Kecamatan Gunungsari, Desa Lembuak dan Badrain di Kecamatan Narmada.

Di Lombok Timur, Desa Lenting di Kecamatan Sakra Timur, Desa Timbanuh di Kecamatan Pringgasela, Kelurahan Selong dan Desa Mekar Sari di Kecamatan Suela.

Selanjutnya di Kabupaten Lombok Tengah desa pesisirnya terdapat di Desa Mertak, Kecamatan Pujut dan tiga desa lainnya.

“Nah, kalau di Pulau Sumbawa, terdapat tiga desa di KSB, tiga desa di Kabupaten Bima, tiga kelurahan di Kota Bima, tiga kelurahan di Kabupaten Dompu dan satu desa di Kabupaten Sumbawa, yakni Desa Pelat di Kecamatan Unter Iwes,” ungkap Ahsanul Khalik.

Berita Terkait:  Gempa 4,3 SR Terjadi di Lombok Utara, Terasa Hingga Mataram

Menurutnya, seluruh desa dan kelurahan yang tangguh bencana itu sudah diberikan sosialisasi dan pemahaman tentang bencana sejak tahun 2011 hingga tahun 2018.

Bahkan, mereka juga dilatih dengan berbagai kegiatan untuk penanganan bencana. NTB harus secara komprehensif mempraktekkan manajemen resiko bencana, mulai dari pencegahan bencana dan juga mitigasi bencana karena dari 14 jenis bencana yang ada, di NTB ada potensi 11 jenis bencana yang bisa saja terjadi.

“Untuk mitigasi bencana ke depan harusnya semua perencanaan pembangunan di NTB harus mempergunakan pendekatan perencanaan berbasis kebencanaan, mulai dari struktur dan pemetaan bangunan yang ramah bencana, pemetaan sturuktur tanah dan hal-hal lain yang terkait langsung dengan kesiap siagaan dan kewaspadaan terhdap setiap kemungkinan bencana yang bisa terjadi kapan saja,” demikian H Ahsanul Khalik. (NM1) 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here