Beranda PENDIDIKAN Narasi Besar NTB Gemilang Ditantang

Narasi Besar NTB Gemilang Ditantang

BERBAGI

NUSRAMEDIA.COM, MATARAM — Sejumlah Mahasiswa Universitas Mataram (UNRAM) bersama Mahasiswa Universitas Teknologi Sumbawa (UTS) mendatangi Kantor Gubernur NTB, Jum’at (3/5).

Mereka tergabung dalam Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) ini menggelar aksi demo.

Masa aksi mengaku kecewa dengan Kepemimpinan Gubernur NTB terutama dalam hal pendidikan di NTB.

Dikesempatan itu, mereka menyuarakan berbagai hal. Mulai soal infratsruktur, jalan, listrik, sistem zonasi, unbk, sarpras pendidikan.

Tak hanya itu, mereka juga meneriakkan soal gaji guru (non pns) di Kabupaten/Kota yang dinilai masih sangat memprihatinkan.

Sebagaimana dikatakan Presiden Mahasiswa BEM Unram, Amri Akbar NTB menjadikan pendidikan sebagai salah satu prioritas utama pembangunan.

Namun disisi lain kata dia, system pendidikan masih menunjukkan titik yang memprihatinkan.

Dinilainya sarana dan prasarana masih belum terlihat pemerataannya. Adapun system zonasi juga ternyata semakin menimbulkan rasa kecembuaruan bagi segelintir pihak.

Pasca bencana gempa lanjut Amri Akbar, NTB mengalami kerugian yang tidak sedikit termasuk lembaga pendidikan.

Berita Terkait:  Mari Jaga Indonesia dengan Empat Pilar Kebangsaan

Dicontohkannya seperti di Kabupaten Lombok Utara, sebagai salah satu daerah tertimbun gempa tidak ada pendanaan yang benar-benar jelas terhadap restorasi pendidikan di KLU.

Kemudian, permasalahan kesejahteraan guru di NTB masih menjadi PR besar juga bagi Pemerintah provinsi NTB.

Gaji guru Non-PNS dikatakan belum sebanding dengan jam mengajar yang mereka lakukan.

Melihat situasi ini, mutu pendidikan yang merupakan salah satu misi dari Pemrov NTB menjadi terhambat dengan situasi tenaga pengajar hari ini.

Solusi dan langkah dari pemerintah NTB harus digencarkan demi untuk menjaga nilai eksistensi dari pendidikan itu.

“Bagaimana NTB Gemilang akan terwujud jika kenyataan masih seperti ini. Kami mahasiswa menantang narasi besar NTB Gemilang,” ujarnya dalam orasinya.

“Pendidikan di NTB sudah baik, itu hanya klaim (pendidikan merata). Kenyataan di sejumlah daerah seperti di KLU masih sangat memprihatinkan. Kemana bantuan senilai Rp 2 Triliun untuk pendidikan itu? Begitu juga di Sumbawa, infrastruktur termasuk listrik dan sarpras pendidikan lainnya didaerah terpencil,” kata Amri menambahkan.

Berita Terkait:  Gubernur NTB Bangkitkan Semangat Mahasiswa Menatap Masa Depan Penuh Optimis

Tak tanggung para mahasiswa juga menantang secara terang-terangan kepada pemerintah provinsi untuk duduk dalam membedah konsep NTB Gemilang.

“Ayo kita sama-sama buka data kita. Secara moral intelektual kami siap mempertanggungjawabkan segalanya,” teriak Presma BEM UNRAM ini.

“Kita ingin Gubernur yang kita pilih ini duduk bersama membedah konsep pendidikan gemilang dengan konsep pendidikan rakyat terutama di plosok Sumbawa, Sembalu, termasuk di Lombok Utara. Di Sumbawa listrik saja tidak ada, di KLU sekolah disana masih bocor sana sini,” imbuhnya.

Terkait hal ini ia menegaskan kembali, bahwa sistem kondisi Pendidikan di NTB benar-benar dalam keadaan yang memprihatinkan.

Berita Terkait:  Tiongkok Tawarkan Beasiswa bagi 1000 Mahasiswa NTB

“Perlu kami sampaikan, pendidikan di NTB tidak baik-baik Saja. Selain itu, gaji guru non pns saja hanya Rp 230 ribu pertiga bulan. Itu artinya mereka hanya mendapatkan Rp 70 ribu perbulannya. Apakah ini yang dinamakan NTB gemilang, pendidikan yang gemilang,” geramnya.

Hingga berita ini ditayangkan, aksi demo masih berlangsung di depan Kantor Gubernur NTB.

Terlihat pihak kepolisian dan Pol PP masih berjaga melakukan pengamanan sepanjang jalannya aksi.

Mahasiswa meminta Gubernur NTB untuk keluar menemui mereka. Namun hingga saat ini, Doktor Zul maupun pejabat yang mewakili belum juga terlihat menemui masa aksi.

Jika gubernur atau oejabat yang mewakili tidak menemui mereka, sejumlah mahasiswa ini mengancam akan tetap terus bersuara.

“Temui kami disini, duduk bersama kami. Jika tidak, kami akan tetap disini,” tandas Amri disambut kompak teriakan ‘Hidup Mahasiswa’ oleh masa aksi. (NM1)