Beranda ADVERTORIAL Keren Nih! Guru SDN Nijang Sulap “Takokak dan Papan Bekas” Jadi Media...

Keren Nih! Guru SDN Nijang Sulap “Takokak dan Papan Bekas” Jadi Media Pembelajaran

BERBAGI

NUSRAMEDIA.COM, SUMBAWA — Abdul Azis, S.Pd, salah satu guru di SDN Nijang, Kecamatan Unter Iwes, memanfaatkan takokak (nama lainnya rimbang atau terung pipit adalah tumbuhan dari suku terung-terungan yang buah dan bijinya dipakai sebagai sayuran atau bumbu), terong hutan dan papan bekas sebagai media pembelajaran.

Pendekatan solusi lokal untuk masalah lokal mulai dirasakan  manfaatnya oleh para guru dampingan program rintisan PERMATA (Peningkatan kualitas pembelajaran numerasi dasar) di Sumbawa. Padahal, masyarakat di Sumbawa umumnya hanya menggunakan takokak dan terong hutan sebagai bahan makanan atau pelengkap masakan seperti ketika membuat masakan khas Sumbawa seperti sepat, singang atau cengka.

Namun siapa sangka, hadirnya INOVASI di Sumbawa membuat guru melirik dan memanfaatkan tumbuhan satu ini menjadi media pembelajaran numerasi yang menyenangkan yang diberi nama ampek hitung.

Guru kelahiran Mokong, Moyo Hulu ini menyebutkan kata ampek dalam bahasa Sumbawa adalah papan bekas. Sedangkan hitung artinya berhitung. Jadi, ampek hitung artinya papan berhitung. Ampek hitung sengaja dibentuk seperti boneka manusia setengah jadi untuk memancing rasa ingin tahu anak-anak dalam proses belajar numerasi.

Berita Terkait:  Didampingi Para Kabid, Kadis Dikbud Kunjungi Sekolah Terdampak Gempa

“Kabetulan sekolah kami berlokasi tidak jauh dari sawah dan perkebunan sehingga terong hutan dan takokak tumbuh subur di sekitar halaman sekolah, kemudian di dekat rumah saya ada tukang kayu yang biasanya membuang sisa papan tidak terpakai. Saya lalu meminta papan bekas tersebut sebagai bahan utama,” tutur Abdul Azis.

Sebagai seorang Fasda (Fasilitator Daerah) program rintisan PERMATA Abdul Azis mengungkapkan ampek hitung bisa menggunakan biji-bijian yang lain atau buah-buahan lain sesuai kreativitas masing-masing guru.  Mengoperasikan ampek hitung seperti sedang bermain sulap.

Abdul Azis  menerangkan cara pengoperasian ampek hitung  dipadukan dengan kupon ajaib berisi kalimat perintah atau pertanyaan seputar materi penjumlahan atau pengurangan. Berikut langkah-langkah menggunakan ampek hitung.

Pertama, kupon ajaib dibuka kemudian anak-anak akan dituntun untuk mengoperasikan ampek hitung. Kedua, ketika anak-anak mendapat kata perintah DEPAN maka yang diambil adalah media hitung dari terong hutan yang berada di sebelah kanan dan ketika mendapat kata perintah BELAKANG maka yang diambil adalah media tekokak di sebelah Kiri.

Misalnya operasi penjumlahan 7+5= … Ambil tekokak atau terong 7 buah dihitung secara runtut dimasukan melalui lubang khusus diatas kotak tengah yang besar setelah itu ambil di kotak kiri sebanyak 5 terong atau tekokak dihitung secara runtut juga sampai lima.

Berita Terkait:  Wow, 50 Pemuda NTB Akan Dikirim Lagi ke Polandia

Ketiga, ketika anak-anak mendapat pertanyaan tentang pengurangan misalnya 8-6=…maka langkah operasi dengan ampek hitung adalah  mengambil terong dari kanan 8 biji kemudian masukkan ke kotak tengah tanpa melalui lubang kotak kecil di atasnya. Setelah 8 terong dimasukan dalam kotak kemudian diambil 6 dimasukan ke kotak guru kiri dan hasil akhir dari 8-6 akan kelihatan di kotak tengah yaitu 2 biji terong. Di bagian akhir, anak-anak bisa menulis di papan bahwa 8-6 = 2.

Setelah mempraktikkan media ini kepada anak-anak tutur Abdul Azis, mereka terlihat lebih bersemangat dan tidak mudah bosan dalam belajar penjumlahan dan pengurangan. Bahkan, media ini juga dapat digunakan untuk operasi perkalian dan pembagian dengan penambahan alat peraga berupa gelas plastik atau wadah kecil di belakang papan.

Selanjutnya, papan styrofoam ditempel di belakang ampek. Setelah itu anak-anak diarahkan mengambil bahan terong hutan atau tekokak dari kanan kemudian membagi atau mengalikannya sesuai perintah soal yang ditempelkan di belakang papan.

Berita Terkait:  Diduga Ajak Serang Sekolah Lain, Dua Orang Dicari Polisi

Selain itu, ampek hitung juga dapat digunakan baik di dalam maupun di luar kelas. Inilah saatnya guru harus mampu mencari suasana belajar yang berbeda tidak mesti di dalam ruangan semata.

“Belajar di luar kelas dapat dirasakan manfaatnya oleh anak anak. Suasana bebas sejauh jauh mata memandang menimbulkan pikiran dan semangat baru. Berbeda ketika terus belajar di dalam ruangan,” katanya.

Semangat untuk menjadi bagian dari pencerdas anak-anak bangsa adalah motivasi terbesar dalam menjalankan profesi sebagai seorang guru. 17 tahun menjadi guru, membuat Abdul Azis sadar betapa mulianya profesi sebagai pahlawan tanpa tanda jasa ini. Abdul Azis berharap guru-guru dampingan INOVASI mulai membuat media pembelajaran sesuai dengan konteks masalah lokal.

“Saya membuat media pembelajaran agar anak-anak senang belajar numerasi dan berharap yang saya lakukan dapat memotivasi teman-teman guru lainnya,” kata Abdul Azis.

Program-program rintisan INOVASI telah melahirkan kreativitas dan energi baru dalam rangka turut membantu guru menemukan solusi lokal untuk masalah lokal pendidikan di Kabupaten Sumbawa. (*)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here