Beranda PEMERINTAHAN Penguatan Masyarakat Pranata Adat, dari Sumbawa Belajar untuk Indonesia

Penguatan Masyarakat Pranata Adat, dari Sumbawa Belajar untuk Indonesia

BERBAGI

NUSRAMEDIA.COM, SUMBAWA — Kementerian Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal, dan Transmigrasi (Kemendes PDTT) melalui Direktorat Jenderal Pengembangan Daerah Tertentu (Ditjen PDTu) kembali melaksanakan penguatan pranata adat dan budaya. Untuk di tahun 2019, Desa Dete, Kecamatan Lape, Kabupaten Sumbawa, Nusa Tenggara Barat menjadi tujuan pertama.

Dipilihnya Kabupaten Sumbawa menjadi salah satu daerah tujuan, karena memang Sumbawa masih masuk dalam kelompok daerah tertinggal yang memiliki potensi atau kerawan konflik.

“Ternyata kita ketahui bahwa Sumbawa ini memang masuk dalam daerah tertinggal dan konflik bisa muncul. Karena Sumbawa terdiri  dari berbagai aneka suku, ternyata  memang konflik tidak ada. Karena mereka memiliki pranata adat. Pranata-pranata adat inilah yang nanti akan kita kemas, kita coba dorong menjadi sebuah lembaga adat yang memang mampu menjadi semacam arena tempat untuk menyelesaikan setiap persoalan yang terkait dengan masyarakat di tingkat bawah,” ujar Sekretaris Jenderal Kemendes PDTT, Anwar Sanusi kepada wartawan, usai membuka Festival Pranata Adat Untuk Perdamaian Kabupaten Sumbawa, Sabtu (30/3).

Anwar meyakini Sumbawa bisa saja menjadi model percontohan bagi daerah lain. Namun masih ada beberapa hal lain yang harus ditambah yakni menyesuaikan dengan konteks masyarakat. Point inti dan nilai inilah yang akan dicari lebih dahulu.

Selain itu, lanjutnya, Sumbawa juga dapat menjadi contoh dalam mengolah perbedaan menjadi persatuan. Yakni salah satunya dengan aneka permainan yang mencerminkan adanya satu sistem atau simbol, ketika terjadi persoalan dapat terselesaikan dengan cara baik.

“Misalnya masyarakat Jawa, tentunya memiliki nilai yang agak berbeda, masyarakat Sulawesi memiliki adat berbeda. Tetapi saya yakin dari nilai-nilai dasar yang merupakan sendi yang mendukung pranata adat ini akan bisa kita adopsi di tempat lain. Jadi intinya saya ingin bahwa dari Sumbawa ini akan menjadi media pembelajar, bagaimana penguatan masyarakat pranata adat untuk menjamin keberlangsungan perdamaian di tingkat masyarakat,” terangnya.

Berita Terkait:  Data Akurat Menentukan Keberhasilan NTB Gemilang

Dijelaskannya, festival pranata adat dalam perdamaian desa memperlihatkan berbagai adat di nusantara yang memiliki kekuatan semacam koneksi sosial. Dimana ketika terjadi konflik di tengah masyarakat, maka penanganannya dapat ditemukan dengan cara tersendiri. Sehingga hal tersebut ingin disampaikan kepada publik dan pihaknya akan memfasilitasi agar menjadi pembelajaran bagi daerah lain.

“Meskipun Sumbawa tidak masuk yang rawan konflik, tetapi juga dari Sumbawa bisa melihat aneka perbedaan-perbedaan itu bukan sesuatu yang menjadi persoalan. Bahkan mereka memiliki semacam sistem bagaimana mengolah perbedaan itu dalam rangka melaksanakan pembangunan yang ada di wilayahnya,” akunya.

“Harapan kami, festival seperti ini bisa kita laksanakan di tempat-tempat lain. Memang selama ini festival pranata adat dalam rangka perdamaian desa, kami pertama kali kita lakukan di Sumbawa. Artinya kami melihat ini akan menjadi semacam model bagi kita untuk menyampaikan kepada masyarakat luar, bahwa ada model-model yang lain. Tentunya di tempat-tempat yang lain nanti akan disajikan aneka-aneka solusi yang lain, pranata adat yang lain dalam rangka mendukung adanya perdamaian di tingkat masyarakat. Dan itu luar biasa menurut saya, Indonesia akan punya kekuatan yang  sangat luar biasa. Tugas kita, setelah ini kami akan mencoba mengemas menjadi sebuah sajian yang nanti bisa kita sampaikan dalam video pendek. Itu nantinya kita sampaikan di tempat-tempat di daerah lain. Dan kita dorong daerah-daerah lain juga melakukan hal yang sama,” tambahnya.

Berita Terkait:  37 Desa di Sumbawa Jadi Prioritas Penanganan Stunting

Direktur Jenderal Pengembangan Daerah Tertentu, Kemendes PDTT, Ir. Aisyah Kamawati, M.M menyampaikan, festival pranata adat dapat direflikasi oleh daerah lain. Baik di tingkat Desa, Kecamatan, Kabupaten maupun Provinsi.

“Ini sudah tahun kedua. Setiap  tahun kami lakukan peningkatan. Yang pasti semua Kabupaten-Kabupaten yang termasuk daerah rawan  konflik maupun pasca konflik, yaitu ada 41 an Kabupaten itu akan kami lakukan kegiatan seperti ini. Jadi kami akan kuatkan pranata adatnya seperti yang disampaikan pak Sekjen ini. Untuk tahun 2019, Kabupaten Sumbawa adalah pembuka kegiatan festivalnya,” ungkapnya.

Wakil Bupati Sumbawa, Drs. H. Mahmud Abdullah menerangkan, Kabupaten Sumbawa bisa dikatakan seperti Indonesia kecil karena setiap suku ada di Sumbawa. Meskipun keberagaman etnis, agama dan budaya ada di Sumbawa, namun suasana damai, harmonis dan kondusif tetap terpelihara dengan baik.

“Kami sangat mengapresiasi dan menyambut positif pelaksanaan kegiatan Festival Budaya dalam rangka penguatan Pranata Adat untuk  Perdamaian Desa. Sebab kegiatan ini merupakan salah satu bentuk ikhtiar kita bersama untuk memberikan motivasi dan menggelorakan kembali semangat kebersamaan, semangat kegotong royongan, semangat untuk perdamaian, agar kita dapat hidup rukun dan damai. Serta dapat melestarikan nilai-nilai budaya dan menjadi  kohensi antar suku bangsa dan Negara Kesatuan Refublik Indonesia, khususnya dalam wilayah Kabupaten Sumbawa yang kita cintai ini,” ujarnya.

Berita Terkait:  Segera Diumumkan, Hasil CPNS Sumbawa Terpenuhi 215 Formasi

Haji Mo-akrab Wabup disapa juga mengingatkan agar masyarakat untuk tetap menjaga persatuan dan kesatuan kita. Karena menjelang Pilpres dan Pileg, banyak sekali yang dapat memecah rasa persatuan dan kesatuan. Sehingga dengan kondisi ini berpotensi menimbulkan gesekan-gesekan horizontal yang dapat mengancam rasa aman dan ketertiban di tengah-tengah masyarakat.

“Oleh karena itu kegiatan semacam ini perlu terus didorong. Selain untuk menjalin kebersamaan  dan kekompakan antar warga masyarakat, juga sekaligus untuk memelihara dan melestarikan seni dan budaya daerah, merevitalisasi kearifan lokal sebagai wadah perdamaian desa,” jelas Wabup.

Untuk diketahui, kegiatan ini dibuka langsung oleh Sekjen Kemendes PDT dan Transmigrasi, Anwar Sanusi yang ditandai dengan Baguntung Ramai.  Didampingi Wakil Bupati Sumbawa, Drs. H. Mahmud Abdullah. Dihadiri Dirjen Pembangunan Daerah Tertentu, Ir. Aisyah Kamawati, M.M, dan Sekretaris Dirjen, Anggota DPR RI, Ir. Syafruddin. Hadir juga Wakil Bupati Sumbawa, para Asisten dan Kepala OPD, Dandim 1607 Sumbawa, Letkol. Inf. Samsul Huda, Perwakilan Kapolres Sumbawa, Perwakilan Kajari Sumbawa, toga/toma dan seluruh elemen masyarakat.

Dalam Kesempatan tersebut juga dilakukan penyerahan cinderamata oleh Sekretaris Jenderal (Sekjen) Kementerian Desa Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi (Kemendes PDTT) kepada Wakil Bupati Sumbawa. Wakil Bupati Sumbawa juga memakaikan Sapu’ Alang untuk Dirjen. Dalam acara pembukaan juga ditampilkan kesenian Sumbawa yakni Tarian dan Sakeco. Selain itu juga disuguhkan sejumlah permainan rakyat, seperti Karaci, dan lainnya. (NM3)