Beranda PEMERINTAHAN Gubernur NTB Saksikan MoU SRG dengan Kelompok Tani

Gubernur NTB Saksikan MoU SRG dengan Kelompok Tani

BERBAGI

NUSRAMEDIA.COM, SUMBAWA — Gubernur NTB, Dr. H. Zulkieflimansyah melakukan kunjungan kerja Sabtu (3/11) di Sistem Resi Gudang (SRG) yang ada di Bage Tango Kecamatan Lopok. Dalam kunjungan tersebut, Gubernur NTB menyaksikan penandatanganan Memorandum of Understanding (MoU) atau nota kesepahaman antara kelompok tani dari Desa Pungkit Kecamatan dengan pengelola SRG yaitu koperasi multi niaga.

“SRG solusi jalan pemecahan yang terbilang cukup bagus terhadap masalah produk pertanian, karena gudang ini merupakan sarana penyimpanan barang dengan perlakuan khusus agar barang itu tidak rusak,” kata Arif, Kepala Dinas Koperasi Usaha Kecil Menengah Perindustrian dan Perdagangan Kabupaten Sumbawa, di ruang kerjanya Senin (05/11).

Berita Terkait:  Proses Pansel Final, Sekda Terpilih Segera Diumumkan

Menurutnya, di Kabupaten Sumbawa hingga saat ini terdapat dua gudang SRG, yakni di Kecamatan Lopok dan Kecamatan Labangka. Namun, gudang SRG Kecamatan Lopok yang telah aktif dan didukung peralatan memadai.

“RSG ada dua. Di Lopok dan Labangka. RSG Lopok sudah berjalan satu tahun. Kapasitas gudang dapat menampung 1.500 ton. Sedangkan RSG yang ada di Labangka peralatannya belum lengkap, baru lantai jemur yang digunakan oleh petani dan anggota koperasi Labangka,” ujarnya.

Berita Terkait:  Lahan Beringin Sila Masuk Tahap Persiapan Penambahan Luas

Arif menjelaskan, barang atau komoditas pertanian yang disimpan di gudang akan menjadi lebih baik, dalam tunda jual untuk menunggu harga stabil. Selain itu, petani akan mendapat nilai kredit sekitar 70 persen dari nilai barang tersimpan. “Barang yang disimpan itu bisa mendapat resi sebagai agunan pinjaman, misalnya kepada lembaga perbankan atau lembaga keuangan perbankan bisa sejumlah 70 persen,” ujarnya.

Ia berharap, melalui SRG dapat mendorong petani sejahtera, karena dapat dapat menentukan harga jual atau mempunyai daya tawar tinggi. Daripada langsung menjual dengan harga rendah, karena penawaran permintaan rendah karena penawaran tinggi.

Berita Terkait:  Kebutuhan Anggaran Rekonstruksi Pascagempa Mencapai Rp 551 Miliar Lebih

“Ketimbang menjual paska panen biasanya harganya menurun karena tingkat dimensinya rendah atau tetap, sedangkan suplayernya meningkat maka terjadi lonjakan dan permintaan pun sedikit maka harga menjadi murah. Diharapkan kepada masyarakat untuk semaksimal mungkin memanfaatkan sarana itu supaya tidak mubazir, kepada petani yang ingin menaruh barangnya seperti gabah dan jagung disilahkan,” katanya mengakhiri. (NM2)