Beranda PEMERINTAHAN Bupati Kuatkan Hati Puluhan Tenaga Kesehatan yang Diisolasi

Bupati Kuatkan Hati Puluhan Tenaga Kesehatan yang Diisolasi

BERBAGI

NUSRAMEDIA.COM, LOMBOK BARAT — Prihatin dengan kondisi para tenaga kesehatan (nakes) yang berjuang di garis depan penanganan Covid 19, Bupati Lombok Barat H Fauzan Khalid mengunjungi 28 nakes yang saat ini masih menjalani isolasi sambil menunggu hasil swabnya.

Bupati didampingi oleh Ketua DPRD Hj Nurhidayah, Kapolres Bagus Satrio Wibowo, Dandim 1606 Efrijon Kroll, Sekretaris Daerah H Baehaqi, Kepala Dinas Perumahan dan Pemukiman H. Lalu Winengan, Kepala Dinas Kesehatan Hj. Ambaryati, dan Kepala Bidang Pencegahan, Pengendalian Penyakit dan Kesehatan Lingkungan (P3KL) Dinas Kesehatan H Ahmad Taufiq Fatoni mengunjungi para nakes di sebuah hotel mewah di Kawasan Lombok Barat.

“Kami berusaha menghibur dan menguatkan hati mereka. Mereka ini sehat, tapi harus berpisah dari keluarga karena kontak dengan pasien. Jadi kami fasilitasi mereka mengisolasi diri sampai hasil swabnya keluar untuk kami serahkan ke RSUD atau kami pulangkan kalau hasil swab-nya yang kedua dinyatakan negatif,” terang Bupati Fauzan Khalid.

Pemerintah Kabupaten Lombok Barat, imbuh Fauzan, mengambil kebijakan untuk mengisolasi mereka di hotel karena melindungi keluarga para nakes dari berinteraksi dengan mereka di masa 14 hari ini. Saat ini jumlah mereka yang dikarantina sebanyak 28 orang dan 7 lainnya harus dirawat di ruang isolasi di dua Rumah Sakit milik Lombok Barat.

Berita Terkait:  Sejumlah Pokdarwis Apresiasi Upaya Dispopar Sumbawa

Menyambut kedatangan rombongan, salah seorang dari nakes ini mengaku terharu dan menyambut rombongan dari jarak cukup jauh di Lorong kamarnya.

Mereka mengingatkan agar bupati menjaga jarak walau rombongan telah melengkapi diri dengan alat pelindung diri (APD) yang disiapkan oleh hotel tersebut.

“Mohon pak bupati dan aparat bisa membantu kami. Tolong beri pemahaman kepada Kadus, Kaling, dan masyarakat untuk menerima kami nantinya kalau kami sudah bisa pulang,” ujar tenaga kesehatan yang enggan disebutkan namanya.

Pria yang telah dikarantina lebih dari dua hari itu mengaku keluarganya pun saat ini merasa dikucilkan oleh para tetangga. “Anak istri saya dijauhi dan tidak ada yang berani dekat dengan mereka,” keluhnya lirih.

Menanggapi hal tersebut, Bupati Lombok Barat mengaku prihatin. Di tengah resiko terinfeksi, para nakes ini juga harus mengalami persoalan sosial di tempat tinggalnya masing-masing.

“Masyarakat tidak semestinya memperlakukan mereka atau siapapun seperti itu (mengucilkan, red). Mereka ini sehat tapi masih menunguh hasil swab. Kalau negatif, mereka bisa pulang. Tolong masyarakat menerima karena itu artinya mereka ini sehat seperti orang lain. Sama halnya dengan orang yang sudah sembuh dan harus pulang, mereka bisa beraktivitas kembali seperti orang lain,” ujar Fauzan.

Berita Terkait:  Zulkifli : Alhamdulillah, Sejauh Ini Sumbawa Aman dari COVID-19

Sebenarnya, tambah Fauzan, yang penting semua orang menjalankan protokol pencegahan. Jadi masyarakat harus mengedepankan aspek pencegahan dengan tetap menjaga jarak fisik, tidak menghadiri kerumunan,tetap memakai masker, dan rajin mencuci tangan pakai sabun atau handsanitizer, tegas Fauzan.

Dengan begitu tidak perlu sampai mengucilkan orang-orang yang telah ditetapkan sembuh atau telah ditetapkan negatif dari Covid 19.

Di Lombok Barat, menurut Kepala Bidang P3KL Dinas Kesehatan H. Ahmad Taufiq Fatoni hingga Rabu, (27/5) lalu telah mencatatkan 114 orang ditetapkan positif Covid 19 dan 7 di antaranya adalah para tenaga kesehatan.

“Ini salah satu resiko yang harus kami tanggung. Kami tetap ikhlas, namun kami tetap memohon agar kesadaran masyarakat untuk melakukan pencegahan karena ini salah satu kunci keberhasilan kita menghadapi bahaya virus ini. Apalagi dengan kondisi tenaga kesehatan yang bekerja saat ini jumlahnya berkurang, tentu kami akan kesulitan memberikan pelayanan dan perawatan kepada pasien di ruang isolasi. Untuk menambah jumlah mereka di ruang isolasi, kami harus memperhitungkan rasionya untuk pelayanan ruang lainnya,” terang Fatoni.

Terpisah, seperti diungkapkan oleh Asisten II Bidang Perekonomian dan Pembangunan Hj Lale Prayatni, bahwa terjangkitnya para tenaga kesehatan di Provinsi Nusa Tenggara Barat seperti menjadi cluster baru dalam penyebaran Covid 19.

Berita Terkait:  Masyarakat NTB Diminta Ikut Sukseskan APGN 2019

“Kita tunggu rilis (Data Update COVID-19), bisa jadi Provinsi NTB akan menjadikan penyebaran Covid 19 yang mengenai para tenaga kesehatan sebagai cluster baru, yaitu Cluster Nakes,” papar Lale.

Terkait hotel tempat isolasi para tenaga kesehatan ini, Generale Manajer hotel tersebut yang juga tidak ingin dirinya dipublikasikan mengaku bahwa pihaknya menyiapkan 85 kamar untuk bisa dimanfaatkan oleh masyarakat yang ingin melakukan isolasi mandiri.

“Dalam hal ini, kami membantu siapapun untuk melakukan isolasi mandiri. Kami juga menerapkan protokol yang ketat, mulai dari loby sampai kamar yang dimanfaatkan untuk menginap,” ujar General Manajer tersebut.

Protokol tersebut, terangnya adalah penyemprotan disinfektan di semua lokasi yang dilakukan rutin 3 kali sehari, penyediaan thermogun dan alat pelindung diri (ADP) dan bahkan menyiapkan fasilitas makan yang sesuai dengan standar hotel.

“Kita (hotel, red) tidak sendiri dalam menyediakan fasilitas isolasi. Karena kondisi pariwisata kita yang sudah susah seperti ini, penyediaan kamar isolasi adalah pilihan yang terpaksa kami ambil untuk bisa bertahan dari kondisi seperti saat ini,” akunya. (red)