Beranda PARIWISATA Wujudkan NTB Bebas Sampah, Pemprov Segera Berinovasi

Wujudkan NTB Bebas Sampah, Pemprov Segera Berinovasi

BERBAGI

NUSRAMEDIA.COM, BANDUNG — Pemerintah Provinsi NTB sepertinya akan segera berinovasi dalam menjalankan program unggulan zero waste.

Pasalnya pada pekan ini, dua daerah telah dikunjungi untuk belajar penanganan dan pengelolaan sampah yang baik.

Pertama, lokasi yang dikunjungi yaitu TPST Bantargebang, Kota Bekasi, Jawa Barat, Rabu (24/4).

Kemudian dilanjutkan bertemu dengan Pemerintah Kota Bandung pada Kamis (25/4).

Di Kota Bandung, rombongan Pemprov NTB dipimpin langsung Kepala Biro Humas dan Protokol Setda NTB, Najamudin Amy yang didampingi  Kasubbag Humas Sekretariat DPRD NTB, L Juan Hilary.

Mereka diterima oleh Staf Ahli Pemkot Bandung, Dodi Ridwansyah bersama perwakilan OPD Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan (LHK) dan Dinas Pendidikan.

Karo Humaspro Setda Provinsi NTB, Najamuddin Amy mengatakan, setelah kunjungan di PTST Bantargebang kini pihaknya kembali mengunjungi Kota Bandung.

Tujuannya sama yaitu untuk belajar mengenai cara penanganan dan pengelolaan sampah. Sehingga program zero waste dapat menuju keberhasilan.

“Nantinya hasil dari pertemuan yang kita lakukan akan disampaikan ke Kabupaten/Kota yang ada di NTB,” ujarnya.

Diungkapkannya, hingga kini masih ada persoalan terkait sampah dan program zero waste.

Berita Terkait:  Meriah, NTB Karnal Heritage Lombok-Sumbawa

Seperti masih sedikitnya produksi sampah yang dikelola dan keraguan akan berhasilnya program zero waste tersebut.

“Butuh inovasi untuk menjawab persoalan yang ada. Pemprov NTB dapat mengambil manfaat inovasi luar biasa di daerah  yang sudah dikunjungi ini,” jelasnya.

Dijelaskannya, Pemprov NTB saat ini sangat serius menangani persoalan sampah.

Karena dengan pengelolaan yang baik akan mampu mengubah sampah menjadi berkah.

Demikian sebaliknya, jika tidak terurus secara maksimal justru akan mendatangkan malapetaka dan bencana.

Sehingga penting bagi NTB melihat apa yang sudah dilakukan daerah lain, salah satunya Bandung.

“NTB bisa melakukan ATM, amati, tiru dan modifikasi, program pengelolaan sampah yang dilakukan Bandung,”  tukasnya.

Seksi Edukasi Dinas Lingkungan Hidup dan Kebersihan Kota Bandung, Syahriani mengakui, pada dasarnya Pemkot Bandung juga sedang mencari formula dalam menangani persoalan sampah.

Dimana Jawa Barat hingga sekarang masih memiliki ingatan kelam akibat tragedi longsoran di TPA Leuwigajah yang mengakibatkan 157 jiwa meninggal dunia pada 2005.

Termasuk dengan sungai Citarum yang kerap dipandang sebagai tong sampah terbesar di dunia.

Berita Terkait:  Evaluasi Promosi Pariwisata Akan Dilakukan Menyeluruh

Dipaparkannya, produksi sampah warga Kota Bandung berkisar 1.500 ton hingga 1.600 ton per hari, dan 1.200 ton hingga 1.300 ton.

Seluruh sampah tersebut diangkut ke TPA Sarimukti yang merupakan milik Pemprov Jawa Barat dan diperkirakan akan mencapai daya tampung maksimal pada 2020 mendatang.

“Ini mengapa kita harus benar-benar mengurangi sampah yang dikirim (ke TPA) berkurang,” ungkapnya

Mengenai masalah sampah, jelasnya, Pemkot Bandung telah memiliki peraturan daerah (Perda) nomor 9 tahun 2018 tentang pengelolan sampah.

Kemudian pada kepemimpinan Wali Kota Oded Muhammad Danial, lanjutnya, ingin penanganan sampah dilakukan lebih maksimal.

Salah satunya dengan program Kang Pisman yang merupakan akronim dari Kang (kurangi sampah makanan), Pis (pilah sampah) dan Man (manfaatkan sampah menjadi nilai jual) sejak Oktober 2018.

“Secara regulasi wajib menangani sampah  rumah tangga menjadi program unggulan,” jelasnya.

Diungkapkannya, Pemkot Bandung juga memiliki Perusahan Daerah (PD) Kebersihan yang memiliki tugas khusus pengelolaan sampah rumah tangga dan komersial.

Dalam pengelolaan sampah, PD Kebersihan mengangkat 95 orang yang berasal dari komunitas lingkungan hidup sebagai pegawai harian lepas.

Berita Terkait:  Festival MU Jilid II Akan di Kemas Berbeda dari Sebelumnya

Para PHL ini terjun di lapangan guna mendampingi masyarakat dalam memilah sampah rumah tangga. Ditargetkan, satu RW di satu kecamatan dapat menjadi contoh pengelolaan sampah.

Sementara Pranata Humas Dinas Pendidikan Pemkot Bandung Irvianti mengakui edukasi pemilahan sampah juga dilakukan sejak dini dari tingkat SD dan SMP.

“Bank sampah diwajibkan di seluruh SD dan SMP,” ucap Irvianti.

Irvianti menyebutkan, Pemkot Bandung juga memiliki regulasi yang mengatur tentang hal ini, termasuk sosialisasi kepada siswa untuk menggunakan tumbeler dan kantin di SMP untuk tidak menggunakan bahan sekali pakai seperti styrofoam.

Sementara untuk bank sampah saat ini sudah terdapat sebanyak 100 unit di SMP yang ada di Kota Bandung.

Ditambahkan, keberadaan bank sampah merupakan salah satu upaya mengedukasi masyarakat untuk lebih bertanggung jawab terhadap sampah rumah tangga.

“Ada juga kegiatan setiap Sabtu di Cikapundung riverspot, para siswa, Prabu Junior bersama komunitas membersihkan sampah. Prabu Junior mengingatkan orang dewasa untuk tidak membuang sampah di sungai,” tukasnya. (NM)