Beranda PARIWISATA NTB Harus Coba Strategi Bali 

NTB Harus Coba Strategi Bali 

BERBAGI
Ketua Komisi III DPRD NTB Bidang Keuangan dan Perbankan Sambirang Ahmadi dan Kepala Diskominfos Gede Pramana saat bertemu dengan wartawan NTB, Rabu (31/3) kemarin.

PULIHKAN PARIWISATA DITENGAH COVID19

DENPASAR — Dampak pandemi COVID19 terbilang luar biasa. Tak hanya memukul sisi pariwisata, tapi juga perekonomian. Diketahui Bali dan NTB memiliki banyak kesamaan. Salah satunya, pariwisata dijadikan urat nadi perekomonian masyarakat.

Oleh karenanya, NTB pun mencoba belajar dan menyerap beberapa strategi jitu di Pulau Dewata. Terutama mengembalikan pariwisata ditengah pandemi COVID19. Ketua Komisi III DPRD NTB Sambirang Ahmadi melihat ide Bali mengembalikan pariwisata ditengah pandemi sangat layak dicoba.

Bukan tanpa alasan, ia sempat berdiskusi secara langsung bahkan melihat kondisi di Bali, terutama dari sisi pariwisatanya. “Bali itu menunjuk tiga kawasan, yaitu Sanur, Nusa Dua dan Ubud. Nah, kawasan itu dijadikan zona hijau dengan fokus memberikan vaksin kepada masyarakat dan pelaku usaha pariwisatanya. Saya kira gagasan itu layak kita pertimbangkan untuk memulihkan juga pariwisata kita di NTB,” kata Sambirang Ahmadi, Rabu (31/3) kemarin.

Berita Terkait:  Experience Tourism Jadi Trend Dunia 

Berdasarkan data yang dihimpun olehnya dari pihak Dinas Pariwisata Bali, vaksin yang dibutuhkan sebanyak 170.487. Rinciannya 47.045 untuk di Ubud, 87.715 untuk di Nusa Dua, dan 34.727 di Sanur. “Maka cara yang sama perlu kita coba di NTB, misalnya dengan menentukan tiga kawasan yang menjadi episentrum wisata di NTB,” sarannya.

Jika konsep Kawasan Hijau ini bisa berjalan dengan baik, maka dapat dikembangkan ke daerah kawasan atau zona lain. “Saya kira tidak akan ada persoalan serius jika ini dicoba di NTB. Apalagi kita butuh memulihkan pariwisata kita,” imbuhnya.

Berita Terkait:  Gubernur NTB : Jangan Bikin Susah!

Selain itu, NTB juga perlu melihat konsep penerapan protokol kesehatan yang berbasis pada Cleanliness (Kebersihan), Health (Kesehatan), Safety (Keamanan), dan Environment Sustainibility (Kelestarian Lingkungan) atau CHSE.

“Kalau pun pandemi Covid-19, saya mendengar bahwa pariwisata Bali masih tetap bertahan karena banyak industri pariwisata sudah mengantongi CHSE,” ungkapnya di Kantor Dinas Komunikasi, Informatika, dan Statistik (Diskominfos), Bali.

Sementara itu, Dewa Dwijayendra-Kepala Seksi Sarana Promosi dan Komunikasi Digital (SPKD) Dinas Pariwisata-Bali menuturkan kondisi pariwisata Bali per tanggal 31 Maret 2021 dengan upaya-upaya yang sedang ditempuh mulai ada peluang bangkit lagi.

Ia mengungkapkan sesuai arahan Presiden Joko Widodo, rencana 3 kawasan zona hijau akan dibuka untuk dikunjungi Wisatawan Mancanegara (Wisman) pada bulan Juni atau Juli. “Dengan catatan penyebaran kasus Covid-19 melandai,” ujarnya.

Berita Terkait:  Menko PMK : "Lewat MotoGP Kita Kenalkan Pariwisata NTB Kepada Dunia"

Sejauh ini sudah 20.600 yang telah divaksin, terdiri dari 5000 orang dari BTDC, 5600 di Bandara Internasional I Gusti Ngurah Rai, 2000 di Hotel Harris Sunset Road.
Berikutnya lagi 4000 orang Hotel Prama Sanur, dan 4000 dari Hotel Four Point.

Sedangkan sertifikasi industri pariwisata mulai dari hotel, restoran, transportasi, hingga DTW, saat ini telah sebanyak 877 industri pariwisata telah di-assesment, ditambah lagi dari Kemenparekraf sebanyak 973 industri yang telah disertifikasi.

“Persiapan dengan simulasi penyambutan wisatawan mancanegara di Bandara Ngurah Rai, dengan menunjukkan surat keterangan bebas Covid-19 dan akan diarahkan berlibur ketiga kawasan zona hijau,” pungkasnya. (red)