Beranda PARIWISATA Kereta Gantung Rinjani Diluar Kawasan Konservasi

Kereta Gantung Rinjani Diluar Kawasan Konservasi

BERBAGI

NUSRAMEDIA.COM, MATARAM — Kepala Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan (LHK) Provinsi NTB, Madani Mukarom menegaskan bahwa rencana pembangunan kereta gantung dengan mengambil latar Taman Nasional Gunung Rinjani (TNGR) di Lombok, dipastikan berada diluar kawasan konservasi.

“Pembangunan kereta gantung ini tidak berada di zona inti kawasan TNGR. Melainkan diluar kawasan konservasi rinjani,” ujarnya di Mataram.

Pembangunan kereta gantung oleh PT Indonesia Lombok Resort itu, akan membentang sepanjang 10 kilometer dengan mengambil lokasi utama di Desa Aik Berik, Kecamatan Batukliang Utara, Kabupaten Lombok Tengah.

Dimana, seluruh lintasan yang akan dilalui kereta gantung masuk dalam kawasan hutan lindung dan kawasan Tahura. “Jadi kawasannya itu masih di hutan lindung dan Tahura, belum masuk kawasan Rinjani yang selama ini di persoalkan,” tuturnya.

Berita Terkait:  Kreativitas Hotel di Senggigi Dimasa Pandemi 

Kadis LHK juga mengunkapkan untuk rute atau lintasan kereta gantung sepanjang 10 kilometer tersebut nantinya tidak akan melewati jalur pendakian yang biasanya dipakai para pendaki ketika akan menuju ke Pelawangan Sembalun, Pelawangan Senaru, Danau Segara Anak maupun Puncak Rinjani.

“Lintasan yang nanti dipakai untuk kereta gantung ini diluar lintasan yang dipakai para pendaki selama ini, sehingga pengunjung yang menaiki kereta gantung hanya melihat danau dan puncak Rinjani dari kejauhan. Jadi pembangunan kereta gantung ini bukan ingin merebut jalur pendakian ataupun masuk kawasan Rinjani,” tegas Madani Mukarom.

Berita Terkait:  Gubernur Komit Kembangkan Wisata Halal di NTB

Menurut dia, rencana pembangunan kereta gantung tersebut sudah mendapat persetujuan dari Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan. Bahkan, izin prinsip untuk memulai usaha sudah dikeluarkan oleh Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu (DPMP-TSP) NTB.

“Tapi ini baru izin prinsip untuk mereka melakukan kajian. Durasinya pun bisa sampai empat bulan, baru keluar izin-izin lainnya, seperti izin operasional, izin lingkungan, izin usaha, izin pembangunan. Jadi untuk dapat membangunan kereta gantung prosesnya masih panjang,” ucapnya.

Ia menjelaskan, secara teknis untuk sarana dan prasarana pembangunan kereta gantung akan diangkut menggunakan helikopter, sedangkan untuk pembangunan sendiri menggunakan sistem “knock down” atau bongkar pasang sehingga dengan mudah dikerjakan.

Berita Terkait:  NTB Geliatkan Pariwisata Andalan dan Strategis

“Nantinya bangunan tiang sebagai penopang jalur kereta gantung akan dipasang diketinggian antara 40-60 meter. Itupun tergantung rendah dan tingginya topografi lintasan yang dilalui kereta gantung. Tetapi seperti apa teknisnya masih dalam kajian dan survei dulu,” jelas Madani Mukarom.

Sementara itu, untuk nilai investasi dari pembangunan kereta gantung, Mudani Mukarom belum dapat menjelaskan secara detail dengan alasan, pembangunan tersebut masih dalam tahap pengkajian dan survei lapangan.

“Kalau berapa biaya pembangunan kita sementara ini belum dapat kepastian karena tergantung hasil kajian dan survei lapangan yang saat ini masih berlangsung,” tutupnya. (red)