Beranda PARIWISATA Genjot Desa Wisata, Dispopar Fokus Berdayakan SDM

Genjot Desa Wisata, Dispopar Fokus Berdayakan SDM

BERBAGI
Kepala Dinas Pemuda Olahraga dan Pariwisata (Dispopar) Kabupaten Sumbawa, Ir. H. Iskandar D, M.Ec.Dev.

NUSRAMEDIA.COM, SUMBAWA — Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Sumbawa terus berinovasi dalam mengembangkan pariwisata. Pemanfaatan sumber daya manusia (SDM) untuk mempercantik pariwisata di Desa Wisata menjadi fokus penting bagi Dinas Pemuda Olahraga dan Pariwisata (Dispopar).

Demikian disampaikan Kepala Dispopar Kabupaten Sumbawa, Ir. H. Iskandar D, M.Ec.Dev. sejauh ini sudah ada sembilan desa wisata di Sumbawa yang ditetapkan oleh provinsi. Sementara desa lainnya juga memiliki potensi menjadi desa wisata.

Hanya saja desa tersebut  belum memenuhi syarat. Terutama dalam bentuk dukungan prilaku dan sikap dari masyarakat setempat.  Karena seluruh masyarakat yang ada di desa bersangkutan, harus memiliki persepsi yang sama tentang membangun kepariwisataan desa.

“Kalau untuk memenuhi fasilitas infrastruktur, fasilitas sarana prasarana permukiman, kamar dan lain sebagainya, itu adalah faktor-faktor fisik yang gampang dituntaskan. Sepanjang ada anggaran dan kemauan. Tetapi ini menyangkut ke prilaku dan cara keseharian masyarakatnya. Oleh karena itu Pemerintah Kabupaten Sumbawa melalui Dinas Pemuda Olahraga Pariwsata pada tahun 2019 ini, cukup banyak kita akan menggarap pengembangan dan pemberdayaan SDM nya,” ujarnya, Senin (20/5).

Berita Terkait:  Desa Kembang Kuning Surga Tersembunyi dengan Sejuta Pesona

Pengembangan SDM ini, ungkapnya, sudah beberapa kali dilakukan. Yang terbaru dilakukan Kemendes PDT dan Transmigrasi di dua tempat. Kemudian dari Kementerian Pariwisata juga menggarap sampai pelaku pengelola tempat wisata dan juga guru. Pasca Ramadhan ini, Dispopar juga akan menyelenggarakan cukup banyak paket latihan.

Sasarannya SDM yang ada di titik-titik destinasi wisata. Seperti mendidik dalam tahap awal terhadap pemandu-pemandu wisata. Kemudian juga beberapa pengelola tempat-tempat penginapan atau home stay dan lain sebagainya. Termasuk pemandu dan pelatih di obyek wisata yang agak ekstrim juga akan diberikan pelatihan.

“Jadi kita akan fokus tahun ini menyiapkan SDM. Pelaku dengan SDM yang disiapkan itu mereka diharapkan dapat memberikan pemahaman dan juga mendidik secara tidak langsung atau langsung masyarakat-masyarakat lain yang ada di sekitarnya. Sehingga suatu saat kita dapat melahirkan semacam betul-betul desa wisata.  Bukan hanya sekedar para pokdarwis atau pengelola destinasi yang betul sadar wisata. Tetapi masyarakatnya juga di desa itu sadar wisata yang bisa mendukung secara penuh pelayanan-pelayanan wisata. Sehingga bisa melahirkan pariwisata yang nyaman,” jelasnya.

Berita Terkait:  Kapolda NTB Salurkan Langsung BALASA di Gili Tramena

Diterangkannya, untuk sembilan desa wisata yang sudah ditetapkan, kedepannya tetap akan ditingkatkan dan dikembangkan. Karena secara fisik sudah lebih baik dan memenuhi dibandingkan desa yang belum ditetapkan. Artinya di desa tersebut sudah mempunyai modal awal, tinggal memperkuat SDM lantas bergerak secara perlahan ke seluruh masyarakatnya.  Kemudian para pelaku bisnis dan lain sebagainya.

Begitupula desa lainnya yang banyak memiliki potensi wisata juga akan digarap SDMnya. Karena meskipun destinasinya menarik, transportasi lancar, ketika SDM tidak mendukung maka susah untuk tumbuh berkembang.

Berita Terkait:  Lombok Barat Zona Merah, Ahkam : Tidak Boleh Ditoleransi Lagi"

“Namanya desa wisata. Desa itu adalah wilayah dan masyarakat yang mendiaminya. Kalau ada wisatawan, dia mengenal informasi atau tidak. Mampu memberikan informasi atau tidak. Penerimaan mereka terhadap orang luar seperti apa. Apakah akan menimbulkan kenyamanan atau apa. Kemampuan mereka (masyarakat) memberikan informasi itu juga penting,” katanya.

Selain itu, menurutnya fasilitas home stay dan tempat beristirahat bagi wisatawan juga penting. Termasuk juga tempat nongkrong, kemudian tersedia semacam warung yang ramah parwisata atau tempat ngopi dan tempat-tempat yang menyenangkan. Obyek yang menarik juga sangat penting bagi wisatawan. Tak kalah penting lagi adalah kebersihan lingkungan. Sampah jangan sampai menjadi hiasan gerbang masuk desa.

“Setiap pinggir jalan masuk ke desa itu menumpuk sampah. Ini akan mengurangi untuk pemenuhan secara sempurna kriteria desa wisata. Karena tidak ada wisata sampah. Tidak ada wisatawan yang ingin menyaksikan di mana sampah bertumpuk,” tukasnya. (NM3)