Beranda NASIONAL Mendes PDTT : Kepala Desa yang Mampu Berinovasi adalah Pahlawan Pembangunan Desa

Mendes PDTT : Kepala Desa yang Mampu Berinovasi adalah Pahlawan Pembangunan Desa

BERBAGI

NUSRAMEDIA.COM, MATARAM – “Kementerian Desa akan mendukung dan membantu sepenuhnya pengembangan desa wisata di NTB,” demikian ungkap Menteri Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal, dan Transmigrasi RI, Eko Putro Sandjojo.

Pernyataan itu dikatakan Mendes PDTT saat menghadiri acara Peluncuran Desa Wisata dan E-Ticketing belum lama ini di Mataram.

Menurutnya, keberhasilan desa terhadap pengembangan desa wisata di NTB merupakan wujud nyata bagi kesejahteraan masyarakatnya.

Oleh karena itu, pihaknya akan mendukung dan membantu sepenuhnya pengembangan desa wisata di Nusa Tenggara Barat.

“Kepala desa yang mampu berinovasi dengan melihat potensi desanya, maka mereka adalah pahlawan pembangunan desa di NTB,” ungkapnya.

“Jika dalam pengembangan desa wisata NTB masih terdapat kekurangan, maka kami siap untuk membantu,” imbuh Eko.

Wisatawan asing maupun mancanegara, menurut Mendes, jika berkunjung di suatu destinasi wisat, maka hal pertama yang dilakukan adalah berselfi ria bersama keluarga dan sahabat.

Jika dalam pengembangan desa wisata mampu menyulap keunikan, lestari alam tetap terjaga serta budaya yang mampu menarik perhatian pengunjung, maka dipresdiksikan kunjungan wisata akan terus meningkat.

Berita Terkait:  Korem 162/WB Persembahkan Berbagai Prestasi sebagai Kado Ulang Tahun ke-74 

“Kalau desa-desa wisata di NTB masih kekurangan jaringan internet, tolong beritahu kami ibu wagub. Kami akan segera berkomunikasi dengan menteri Kominfo untuk menyiapkan fasilitas telekomunikasi,” tegas Eko.

Banyak hal yang harus dipelajari dari desa-desa yang berhasil mengembangkan desa wisata di Indoensia. Ia menyampaikan percontohan.

Misalkan Desa Ponggok, Kabupaten Klaten Jawa Tengah. Desa itu kata dia, berhasil menjadi desa dengan pendapatan terbesar sebagai desa wisata di Indonesia.

Bukan alam yang indah atau air terjun menjanjikan. Mereka hanya mengembangkan wisata kolam renang dengan omset Rp 10,3 Milyar pertahun.

“Mereka berhasil menyulap kolam renang tua bekas masa penjajahan belanda dulu, karena komitmen dan kerja keras masyarakatnya. Akhirnya mereka berhasil merubah kolam renang yang dihiasi ikan, sepeda dan motor di dalam air. Dan pengunjung bisa bersilfi di dalam air bersama ikan,” katanya.

Berita Terkait:  Hadiri Rakornas di Bogor, Bang Zul Bangun Sinergi dengan Pempus

Menurutnya, keindahan alamnya dan budaya tidak ada yang dibanggakan jika dibandingkan dengan desa-desa di NTB.

Untuk itu, pemerintah pusat dan daerah akan terus mendorong masyarakat yang mau mengembangkan desa wisata yang menjadi program unggulan NTB.

“Provinsi NTB bisa dan harus bisa mengikuti jejak-jejak desa yang berhasil mengembangkan desanya. Dan paling penting adalah fasilitas pendukung juga harus siap,” tegasnya.

Ia mengakui bahwa NTB sudah terkenal dengan Syurga alamnya. Hanya masyarakat yang perlu didorong untuk mengelolah keindahan yang masih tersembunyi.

Ketika mengunjungi desa wisata di Lombok seperti Desa Kembang Kuning dan desa wisata lainnya, menteri menilai letak geografis hampir di semua desa sangat strategis, semua berptensi untuk dikembangkan menjadi desa wisata.

Selama lima tahun terakhir, pemerintah pusat telah memberikan dana desa dengan jumlah yang tidak sedikit. Dana desa yang telah digelontorkan oleh pemerintah sebesar Rp 257 Trilyun untuk 74.957 desa di Indonesia.

Berita Terkait:  Lima Program Strategis NTB Ditetapkan Jadi Program Nasional

Program dana desa tersebut telah mampu membangun infrastruktur yang sangat masif. “Alhamdulila kerja keras dan komitmen semua terutama kepala daerah yang dijalankan oleh kepala desa dan perangkatnya semua berjalan efektif,” tuturnya.

“Pemanfaatan dana desa harus diperluas lagi, guna menjawa dari semua kebutuhan masyarakat. Salah satunya adalah pengembangan desa wisata. Karena dinilai telah mampu meningkatkan kesejahteraan masyarakat,” imbuhnya.

SARAN MENDES PDTT UNTUK PROGRAM ZERO WASTE

Terkait program zero waste yang sedang digencarkan oleh pemerintah daerah saat ini, Mendes EKo menyarankan agar dibuatkan Peraturan Daerah (Perda).

Regulasi ini kata dia, menjadi tolak ukur keberhasilan dan meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap pentingnya menjaga lingkungan.

“Oleh sebab itu, kalau NTB benar-benar ingin menjadi daerah bebas sampah.  Perda itu lebih menekankan pada larangan penggunaan tas plastik kemasan,” sarannya.

“Kalau ini mampu diwujudkan oleh pemda NTB, saya yakin masyarakatnya akan memiliki peluang ekonomi yang menjanjikan,” demikian ia menambahkan. (NM1)