Beranda NASIONAL Kementan Didorong Lakukan Revitalisasi Sistem Pangan Nasional

Kementan Didorong Lakukan Revitalisasi Sistem Pangan Nasional

BERBAGI

JAKARTA — Pemotongan anggaran belanja Kementerian Pertanian (Kementan) Tahun 2021 sebesar Rp 6,33 triliun menjadi sorotan keras Anggota Komisi IV dari Fraksi PKS DPR RI, H Johan Rosihan.

Pasalnya, Wakil Rakyat jebolan Dapil NTB 1 Pulau Sumbawa itu menilai bahwa pemotongan anggara tersebut adalah sebuah pukulan besar bagi sektor pangan dan pertanian.

Oleh karenanya, Johan menilai hingga saat ini pemerintah belum optimal dalam mencapai swasembada pangan sekaligus belum mampu mengentaskan persoalan para petani dan peternak dari jurang kemiskinan.

Hal itu disampaikan Johan selaku juru bicara mewakili Fraksi PKS dalam rapat dengar pendapat (RDP) Komisi IV bersama para pejabat Eselon 1 Kementan pada Selasa (2/2) di Ruang Rapat Komisi IV DPR Senayan, Jakarta.

Dikesempatan itu pula, Johan mendorong Kementan agar segera melakukan revitalisasi sistem pangan nasional demi peningkatan produksi pangan. Terlebih, kata dia, dalam rangka mendukung pemulihan ekonomi nasional pada masa pandemi ini.

Berita Terkait:  Selamat! Perolehan Nilai Meningkat, Sumbawa Berhasil Pertahankan Predikat "B" 

“Revitalisasi pangan ini dapat berupa menyiapkan kebijakan dan institusi strategis dalam memperbaiki tata kelola pangan dan membuat terobosan baru dalam hal ketersediaan, distribusi dan konsumsi pangan berbasis system digital dan pemberdayaan petani lokal,” ujar Johan Rosihan.

Politis PKS yang dikenal cukup vocal itu juga memaparkan program produksi komoditas pangan yang termuat pada program ketersediaan, akses dan konsumsi pangan berkualitas.

Dimana Kementan menempatkan kedelai menjadi satu-satunya komoditas yang tidak dipotong anggaran produksinya. Bahkan, kata dia, bertambah dari Rp 197,38 miliar menjadi Rp 337,126 miliar.

“Atas nama Fraksi PKS, saya mempertanyakan apa alasan pemerintah melakukan perbedaan pada komoditas kedelai dibandingkan dengan komoditas lainnya. Padahal kekuatan bangsa kita adalah pada produksi padi,” tanya Johan.

Berita Terkait:  Johan Rosihan : Jadikan Sektor Pertanian Sebagai Penyelamat dari Resesi Ekonomi

Tak sampai disitu, Johan pun menyinggung soal hortikultura. Dia melihat pemerintah perlu memperkuat penumbuhan UMKM hortikultura dan digitalisasi pertanian, sebagai penyumbang stabilisasi pertumbuhan ekonomi nasional.

Namun, masih kata dia mengingatkan, agar hal tersebut dibangun melalui system pangan nasional yang kokoh dan dapat diterapkan di seluruh daerah di Indonesia.

Johan lantas mengusulkan agar pengelolaan system penyediaan dan pengawasan alat mesin pertanian (alsintan) dapat ditingkatkan. Hal ini, ujarnya, untuk menjaga daya dukung alsintan demi mencapai target produksi yang telah ditetapkan pemerintah.

“Saya minta kepada Dirjen PSP Kementan agar selalu mempertahankan kuantitas dan kualitas alsintan pada daerah-daerah yang menjadi sentra produksi pertanian,” pintanya.

Berita Terkait:  Kemendagri : Laporan Refocussing Anggaran Paling Lambat Seminggu

Tak hanya itu, Johan juga menyoroti sejauhmana perkembangan dari program diversifikasi pangan yang sudah lama digaungkan pemerintah. “Namun hingga saat ini ketergantungan makanan pokok kita terhadap beras tidak bergeser sedikitpun,” katanya.

Terkahir, Johan meminta pemerintah, dalam hal ini Badan Ketahanan Pangan untuk memastikan tidak ada daerah atau wilayah yang penduduknya kelaparan. Karena realitasnya saat ini terdapat 6,3 juta dari populasi 23 juta balita di Indonesia yang mengidap masalah stunting pada tahun 2020 lalu.

“Jadi saya ingatkan pemerintah agar selalu memperhatikan akses pangan dari setiap rakyat supaya selalu mendapatkan pangan cukup, terjangkau dan berkualitas demi masa depan yang lebih baik,” demikian Johan Rosihan. (red)