Beranda KESEHATAN Angka Gizi Buruk Terus Menurun

Angka Gizi Buruk Terus Menurun

BERBAGI

NUSRAMEDIA.COM, SUMBAWA — Kasus gizi buruk di Kabupaten Sumbawa nampaknya berhasil ditekan. Dalam beberapa tahun terakhir, angkanya mengalami penurunan.

Berdasarkan data yang diperoleh dari Dinas Kesehatan (Dikes) setempat, di tahun 2015 kasus gizi buruk mencapai 28 kasus, satu diantaranya meninggal dunia.

Dari kasus yang ada, sudah mampu ditangani dengan baik. Kemudian di tahun 2016 ada 27 kasus, dua diantaranya meninggal dunia.

Di tahun 2017 mengalami turun menjadi 20 kasus dan satu diantaranya meninggal dunia. Sedangkan di tahun 2018 jumlah kasus sebanyak 13, dan dua diantaranya meninggal dunia.

Sekretaris Dikes Sumbawa, Ir. Surya Darmasya yang didampingi Kasi Gizi Masyarakat, Sri Haryati, mengakui adanya penurunan angka gizi buruk tersebut.

Berita Terkait:  dr Dede : Keuangan RSUD Hanya Bertahan Sampai Bulan Depan

Terhadap adanya yang meninggal dunia, disebabkan karena adanya kelainan bawaan. “Kadang-kadang yang meninggal rata-rata karena kelainan bawaan,” ujarnya, Jum’at (15/3).

Dijelaskannya, di tahun 2019 ini belum ada kasus gizi buruk yang terjadi. Tetapi pihaknya juga tetap melanjutkan pengawasan terhadap penderita gizi buruk yang terjadi di tahun 2018.

Sementara ini, dari pengawasan yang dilakukan, para penderita sudah mulai membaik. “Yang baru nda ada. Yang 2018 yang kita lanjutkan pengawasan. Itulah tetap melakukan pemantauan. Alhamdulilah, mereka tidak lagi gizi buruk. Sudah menjadi gizi kurang dan membaik,” terangnya.

Dilihat dari kasus yang terjadi, kata Darmasya, kecamatan yang rawan terjadi adalah kecamatan Labuhan Badas. Karena hampir setiap tahun terjadi kasus gizi buruk. Hal itu terjadi rata-rata di daerah pulau.

Berita Terkait:  Hj Rohmi : Sudah Waktunya Perangi Sampah!

Upaya antisipasi pun tetap dilakukan terutama dari seksi gizi yang menangani tentang berat badan anak dan perkembangan anak.

“Untuk pertumbuhan ini ada beberapa kegiatan yang kita laksanakan. Ada pekan penimbangan pertama. Seluruh balita yang ada di Kabupaten Sumbawa ditimbang. Disitu kita melihat, untuk mengetahui apakah ada gizi buruk, gizi kurang dan stunting,” tukasnya.

Sekarang ini, pihaknya fokus sekali untuk menurunkan semua  permasalahan gizi. Fokusnya melalui HPK (Hari Pertama Kehidupan).

Mulai dari diketahui hamil sudah langsung diintervensi. Bahkan  sekarang ini untuk 2019 intervensinya mulai dari remaja.

Dengan adanya Tablet Tambah Darah (TTD) pada remaja supaya tidak terjadi anemia. sudah mulai kita sekarang.

Berita Terkait:  Kabar Baik! Tambah 11 Orang, Total 117 Warga NTB Sembuh dari Corona

Setelah itu seribu HPK, hamil sembilan bulan, menyusui 6 bulan harus eksklusif. Ditambah MP asihnya sampai  anak berusia dua tahun. “Itu fokus kita sekarang,” tambahnya.

Meskipun demikian, dalam menanganai permasalahan gizi ini, pihaknya tidak bisa sendiri. Begitupula untuk penanganan stunting juga butuh kerjasama dengan lintas OPD.

Dalam hal ini ada grup Tim Percepatan Penurunan Stunting (TP2S). Tahun ini kerjasama dalam tim ini akan semakin diperkuat.

Adapun pihak desa juga diharapkan dukungan anggarannya melalui dana desa. Terutama terkait peningkatan kompetensi kader, kemudian peningkatan sarana prasarana posyandu dan lain sebagainya. “Kalau kita sekarang betul fokus untuk pencegahan dan penanganan,” tutupnya. (NM3)