Beranda HEADLINE Selain Pencabutan Izin, Ketua F-BPNR Minta Kepolisian Usut Tuntas Kasus “Striptis”

Selain Pencabutan Izin, Ketua F-BPNR Minta Kepolisian Usut Tuntas Kasus “Striptis”

BERBAGI

NUSRAMEDIA.COM, MATARAM — Ketua Fraksi Bintang Perjuangan Nurani Rakyat (BPNR) DPRD NTB, H Lalu Budi Suryata mengaku sangat mendukung pihak kepolisian dalam mengungkap kasus tindak pidana pornografi di salah satu cafe wilayah Senggigi, Lombok Barat beberapa waktu lalu.

“Saya secara pribadi maupun kelembagaan memberikan apresiasi yang setinggi-tingginya atas langkah cerdas kepolisian (Polda maupun Polres Lobar) dalam upaya penindakkan,” ujarnya, Selasa (11/02/20) di Mataram.

Tak hanya itu, Lalu Budi Suryata juga meminta kepada Pemkab Lombok Barat agar segera bersikap dan mencabut izin usaha Metzo Executive Club & Karaoke pasca terungkapnya kasus tarian tanpa busana (striptis) oleh dua penari di tempat hiburan itu oleh jajaran Polda NTB.

“Bupati harus tegas. Selain sanksi pencabutan izin, kita minta aparat penegak hukum juga mengusut tuntas kasus ini,” kata Anggota DPRD NTB jebolan Dapil Sumbawa-KSB itu.

Berita Terkait:  Selain Pembunuhan Sadis, AP Juga Terlibat Kasus Curanmor

Menurut politisi PDI Perjuangan ini, kasus tarian tanpa busana atau bugil yang telah mempertontonkan aurat cukup disayangkan pihaknya dan tidak bisa ditolerir lagi. Terlebih NTB sendiri tengah dikenal sebagai destinasi wisata halal.

“Kami tentu menyesalkan kejadian ini terutama kepada pihak manajemen, kok bisa sampai ada hal yang begituan. Kan dia (manajamen) sudah tahu kita (NTB) mencanangkan wisata halal itu, kok ada striptis disitu,” sesal pria yang kerap disapa Haji Budi Suryata ini.

Sekretaris DPD PDI Perjuangan NTB itu juga berharap dengan terungkapnya kasus tarian telanjang tersebut bisa menjadi pembelajaran, sehingga pemerintah lebih ketat melakukan pengawasan terhadap cafe, restoran maupun karaoke yang ada.

Berita Terkait:  Pataka Lambang NTB Diserahkan ke Pemkab Bima

“Intinya harus ditindak tegas, sehingga ini dapat dijadikan pembelajaran dan tidak perlu terulang lagi. Pelakunya diproses sesuai hukum yang berlaku dan bila terbukti ada ketetlibatan pihak manajemen izinnya ya dicabut saja,” demikian H Lalu Budi Suryata.

Untuk diketahui, sebelumnya jajaran Polda NTB menangkap dua penari telanjang yang bekerja di Metzo Executive Club & Karaoke Lombok, kawasan wisata Senggigi, Kabupaten Lombok Barat.

Sebagaimana diungkapkan Kabid Humas Polda NTB Kombes Pol Artanto bahwa ada dua penari telanjang yang ditangkap. Mereka berinisial YM (35) dan SM (23).

“Jadi dua pelaku ini tertangkap tangan melakukan tarian telanjang. Mereka adalah PS (Partner Song) yang melayani konsumennya dalam paket khusus berupa tarian striptis,” tuturnya.

Berita Terkait:  Gubernur NTB Diminta Arif dan Bijaksana Tangani Persoalan Bandara

Selain kedua penari telanjang ini, pihaknya juga menangkap seorang pria yang diduga berperan sebagai mucikari, yaitu DA (43) pria yang kerap dipanggil “Papi”.

Untuk menikmati tarian stirptis ini, konsumen lebih dulu harus mengirimkan uang Rp 2,5 juta melalui transfer rekening Bank BCA milik DA.

Setelah uang diterima, konsumen sudah mendapatkan kamar khusus dengan fasilitas dan pelayanan berkelas.

“Jadi dari paket khusus ini, kedua pelaku (YM dan SM), harus melayani selama tiga jam. Untuk paket plus-nya, ada biaya tambahan Rp 3 juta per ‘partner song’,” tutup Kabid Humas Polda NTB. (red)