Beranda HEADLINE Mulai dari Jenjang SD, Narkoba Sasar Pelajar NTB

Mulai dari Jenjang SD, Narkoba Sasar Pelajar NTB

BERBAGI
Kepala Dinas PMPTSP Provinsi Nusa Tenggara Barat, H Mohammad Rum.

“TUJUH DAERAH DI NTB MASUK KATEGORI BAHAYA NARKOBA”

NUSRAMEDIA.COM, MATARAM — Kepala Badan Kesatuan Bangsa dan Politik Dalam Negeri (Bakesbanpoldagri) NTB, H Mohammad Rum mengungkapkan peta wilayah rawan penyalahgunaan dan peredaran gelap narkotika serta prekusor di provinsi nusa tenggara barat.

Berdasarkan data tahun 2019, nampaknya cukup banyak wilayah di 10 kabupaten/kota yang terpapar barang haram ini, terutama jenis shabu dan ganja. Mirisnya lagi, kondisi dalam dunia pendidikan, khususnya para pelajar di NTB.

Betapa tidak, dari total 557 yang dinyatakan positif narkoba, 525 berjenis kelamin laki-laki, sedang 32 orang lainnya adalah perempuan dan mereka cenderung dari kalangan usia pelajar.

“Kenapa dikatakan NTB darurat narkoba, anak SD dan SMP saja saat test urine positif. Dan usia mereka masih cenderung sangat muda. Di usia 15-20 tahun tercatat 231 orang. Kemudian, usia 21-25 ada 133 orang dan usia 26-30 ada 80an orang,” beber H Mohammad Rum, Jum’at (14/2) di Mataram.

“Kalau dari sisi jenjang sekolah, untuk kalangan SMA/SMK tercatat 248 orang. SMP 193 orang dan SD 55 orang. Kemudian yang putus sekolah ada 14 orang. Selanjutnya jenjang D3 hingga S2 ada 47 orang,” imbuhnya lagi.

Berita Terkait:  Perkembangan COVID-19 di NTB Membaik! Tambah 24, Total 150 Orang Sembuh

Dikatakan mantan Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) NTB itu, angka 557 di tahun 2019 itu mengalami kenaikan dibandingkan 2018 lalu.

Tahun 2018 tercatat hanya 483 kasus. Itu artinya total kenaikannya di 2019 kemarin bertambah mencapai 74 kasus. Kemudian sebanyak 63 ribu orang berpotensi narkoba.

Dengan kondisi ini khususnya dalam dunia pendidikan, pria yang akrab disapa Haji Rum itu mengaku prihatin. Sebagai upaya nyata secara bersama-sama dalam hal ini, pihaknya bersama BNNP, Polda termasuk Dikbud NTB terus berkoordinasi dalam berkolaborasi.

“Kami terus berkoordinasi dengan berbagai pihak. Dan sebenarnya, terutama peran Dikbud sangat penting disini, yaitu harus lebih menggalakkan sosialisasi ke pihak sekolah dalam memberikan pemahaman kepada peserta didik tentang bahaya narkoba,” jelasnya.

Lebih lanjut, Provinsi NTB sendiri kata Haji Rum, saat ini sedang berupaya menekan angka peredaran narkoba. Salah satu upayanya dengan membentuk desa bersinar (bersih narkoba). Sasarannya, 59 desa yang masuk dalam daerah penyalahgunaan dan peredaran gelap narkotika dan ikutannya.

Berita Terkait:  Soal Kunker Dewan ke LN, Doktor Zul : Sampaikan ke Publik Agar Tidak Dimaknai Jalan-Jalan Saja

Bentuknya, merekrut kader yang melakukan penyuluhan atau sebagai motivator dan konselor agar masyarakat terhindar dari bahaya narkoba. Kader ini umumnya direkrut di daerah yang masuk penyalahgunaan narkoba dan mereka merupakan mantan pengguna narkoba. Karena dengan ada mereka, yang belum terkena narkoba tidak terjerumus.

“Dua tahun ini sudah berjalan program tersebut. Tahun lalu ada 10 desa dan tahun ini ada 10 desa sasaran lagi dan ini dilakukan secara bertahap agar seluruh desa dengan jumlah 59 itu bisa tercapai,” terang pria yang dikenal santun dan ramah ini.

Kemudian terkait dengan 10 kabupaten/kota di NTB. Dimana 7 kabupaten/kota diantaranya masuk dalam kategori daerah bahaya narkoba.

Kemudian lanjutnya, 23 daerah berada dalam kategori waspada dan 29 daerah kategori siaga narkoba. Jika disimpulkan, maka total keseluruhan ada 59 daerah/titik yang terpapar narkotika di NTB.

“Dari 10 kabupaten/kota hanya tiga daerah yang tidak masuk dalam kategori bahaya, yaitu Kabupaten Bima, Dompu dan Sumbawa Barat saja,” ungkapnya.

Dicontohkannya, beberapa titik atau wilayah yang masuk dalam katagori bahaya narkoba. Antara lain, Kecamatan Mataram di Kota Mataram.

Berita Terkait:  Soal Panjar JPS Gemilang, Tudingan Ketua BK Dinilai Tak Berdasar

Kawasan wisata Senggigi di Kabupaten Lombok Barat. Kemudian, kawasan wisata Tiga Gili (Trawangan, Air, Meno) di Kabupaten Lombok Utara (KLU).

Kemudian, Kecamatan Praya Timur di Kabupaten Lombok Tengah. Pancor dan Kelayu Kecamatan Selong di Kabupaten Lombok Timur, Kecamatan Buer di Kabupaten Sumbawa, dan Kecamatan Mpunda Kota Bima.

“Umumnya daerah – daerah bahaya ini banyak di pusat kota dan keramaian, seperti Kecamatan Mataram, Pancor dan daerah wisata. Dan ini menjadi perhatian pemerintah daerah,” kata Haji Rum.

Menurut dia, ada beberapa indikator daerah terpapar penyalahgunaan dan peredaran gelap narkotika dan ikutannya tersebut, karena adanya kasus temuan narkoba, ditemukan bandar dan kurir serta pengedar narkoba, rawan kriminalitas, kegiatan produksi narkoba dan adanya akses pintu masuk narkoba.

“Khusus soal pintu masuk ini, rupanya dari jalur transportasi laut, seperti di Selat Lombok dan Selat Alas. Nah ini yang terus diwaspadai supaya tidak masuk,” demikian mantan Kepala BPBD NTB ini. (red)