Beranda HEADLINE Mahasiswa Sumbawa di China Minta Perhatian Pemda

Mahasiswa Sumbawa di China Minta Perhatian Pemda

BERBAGI

NUSRAMEDIA.COM, SUMBAWA — Sebuah postingan yang diunggah oleh akun atas nama Azizah Apriani pada salah satu group di Facebook ‘Rungan Samawa’ cukup menuai banyak respon dari warganet, khususnya masyarakat Sumbawa.

Sebuah status yang diunggah oleh Azizah di Facebook.

Secara garis besar dalam postingannya, ia meminta perhatian nyata Pemerintah Kabupaten Sumbawa untuk bersikap. Dia juga mengaku sebagai salah satu mahasiswa asal Sumbawa yang sedang mengenyam pendidikan di China.

Mengingat situasi dan kondisi di China terbilang cukup menjadi perhatian dunia saat ini (Soal Virus Corona), ia meminta ketegasan dari Pemkab Sumbawa untuk bertindak sebagai langkah nyata menunjukkan kepeduliannya terhadap mahasiswa sumbawa yang ada di China.

Pasalnya, selain ketersediaan stok makanan yang hampir menipis, sikon di China juga cukup dikhawatirkan oleh mereka. Terlebih, bandara pun kata dia, akan tutup.

“Aassalamualaikum, perkenalkan saya nur aziza apriani mahasiswa sumbawa yang sedang menepuh pendidikan di China, sekaligus mewakili teman-teman mahasiswa yang di china juga. Kami ingin mempertanyakan mengenai prihal keberlangsungan kami di china dan juga postingan ini kami tujukan kepada pamerintah kabupaten sumbawa mengenai tindak lanjut pamerintah terhadap kami,” tulisnya di group facebook Rungan Samawa, Rabu (29/1) sekitar pukul 21.00 wita.

Pernyataan yang ia tulis tersebut bukan tanpa alasan. Lantaran membaca sebuah berita di media online, yang mana ia membandingka sikap Pemkab Sumbawa Barat (KSB) memberikan respon positif serta melakukan upaya nyata bagi mahasiswa KSB yang ada China.

“Seperti yang saya kirimkan gambar di bawah ini, merupakan salah satu contoh tindak lanjut dari Pemerintah Kabupaten Sumbawa Barat terhadap mahasiswa KSB yang ada di China. Yang kami pertanyakan, mengapa Pemerintah Kabupaten Sumbawa belum ada tindak lanjut terhadap kami. Kami mohon terhadap Pemerintah Kabupaten Sumbawa agar bisa memberikan sedikit perhatiannya kepada kami,” tulis Azizah Apriani.

“Dan mohon segera ditindak lanjut mengenai perihal kasus Corona yang sedang terjadi di China.
Semakin lama kami berada disini kami semakin susah. Karena kota kami semakin lama akan menjadi kota mati dan apabila kami lama mengambil tindak lanjut kami akan terjebak dan yang dimana kami ketahui bahwa bendara semakin lama akan tutup. Kami mohon kepada pemerintah untuk mendengar suara kami,” demikian tulisnya lagi.

Mencoba melakukan penelusuran lebih lanjut. Berdasarkan data yang dihimpun media ini, Nur Azizah Apriani adalah salah seorang warga Kampung Bugis, Kabupaten Sumbawa kelahiran tahun 2001.

Berita Terkait:  Haji Mo' Kantongi KTA PDIP

Kini dia tinggal di Kota Taizhou provinsi Jiangsu, dan bersama 11 orang lainnya sedang mengenyam pendidikan di Kampus Jiangsu Agri-Animal Husbandry, China. Ia mengaku berangkat tahun 2019 lalu.

Ia mendapat beasiswa dari kampus tersebut dan diberangkatkan oleh pihak panitia. Saat ditanyai apakah sebelumnya keberangkatan telah diketahui oleh pemda sumbawa? Ia menjawab kemungkinan sudah diketahui.

Disatu sisi lainnya, ia menyatakan bahwa keberangkatannya ke China, tidak dilepas secara resmi oleh bupati/OPD atau pejabat sumbawa yang mewakili saat itu. “Tidak secara resmi,” ketusnya.

Kemudian mengenai jalur keberangkatan, Azizah menegaskan melalui jalur mandiri dan tidak melalui program apa-apa.

Adapun dasar ia berangkat lantaran ingin meraih mimpinya dan diharapkan dapat berbuat bagi daerah kemudian harinya.

“Kami sebenarnya (berangkat) melalui jalur mandiri, tidak ada program. Tapi dengan mimpi dan tujuan ingin membangun daerah,” tambahnya lagi.

Mengenai detailnya siapa pihak yang memberangkatkan saat itu, Azizah memilih tidak menjawab secara terbuka.

Saat ini masih kata Azizah, ia bersama rekan lainnya sangat membutuhkan berbagai bantuan. Mengingat di China sedang merebaknya Virus Corona.

“Kami butuh masker, bahan makanan serta air minum. Memang kemarin pihak kampus memberikan kami beras, bawang merah, cabai, paprika dua dan dua kentang. Itu hanya cukup dua hari,” ungkapnya.

Ia juga mengaku kesulitan dengan situasi dan kondisi yang ada saat ini di Taizhou khususnya. Sebab, tempat perbelanjaan terbatas dan tutup.

“Supermarket sudah kebanyakan tutup. Adapun buka, barang sudah mulai habis. Bahkan hari ini (kemarin) transportasi seperti bus sudah mulai di berhentikan. Lalu bagaimana kami pergi mencari atau membeli sesuatu yang kami butuhkan? Salain itu kami takut dengan virus (corona) ini. Kami juga takut akan kehabisan bahan makanan,” demikian perempuan asal Kampung Bugis, Kabupaten Sumbawa itu menambahkan.

Menyikapi hal itu, Bupati Sumbawa HM Husni Djibril yang dikonfirmasi media ini, mengaku tidak mengambil langkah. Itu dikarenakan pihaknya tidak memiliki data tentang mahasiswa Sumbawa yang ada di China.

Malah Bupati Sumbawa mempertanyakan melalui program apa mahasiswa Sumbawa menempuh pendidikan di China. Sebab, sejauh ini pihaknya mengaku tidak pernah ada menerima laporan soal keberadaan mahasiswa Sumbawa di China.

Berita Terkait:  Kapolda NTB Pamitan saat Kunker ke Polres Bima Kota 

“Pemda tidak punya data tentang mahasiswa yang ada di China. Justru kami bertanya melalui program apa mahasiswa Sumbawa menempuh pendidikan di China dan apakah pernah ada laporan ke Pemda Sumbawa biar kita telusuri,” kata Bupati Sumbawa saat dikonfirmasi media ini, Rabu malam (29/1) kemarin.

Kembali ditegaskan oleh orang nomor satu di Kabupaten Sumbawa itu, pihaknya dalam hal ini Pemda tidak dapat mengambil langkah. Karena tidak memiliki data soal keberangkatan mahasiswa Sumbawa di China. Bupati mengkhawatirkan, bahwa hal tersebut diduga sebuah bentuk penipuan. Karena tidak memiliki kejelasan.

“Tidak ada langkah pemda kalau tidak punya data keberangkatannya. Dan bisa saja ini penipuan karena tidak jelas perkaranya,” tegas Bupati Husni.

“Saya betul-betul tidak tahu dan tidak pernah ada laporan tentang keberangkatan mahasiswa dimaksud. Kemudian program apa dan siapa yang memberangkatkan mereka?. Sampai saat ini belum ada OPD yang menyampaikan kalau ada orang Sumbawa yang dikirim ke China. Maka saya ingin ketahui kepada siapa dia berikan data,” imbuhnya lagi.

Terlebih ditahun politik seperti saat ini, diduganya ada oknum yang tidak bertanggungjawab memanfaatkan situasi tersebut. Karena menurut dia, kuat dugaan bisa jadi orang luar Sumbawa mengakui dirinya sebagai orang Sumbawa.

“Jangan-jangan penumpang gelap, baru setelah ada masalah mereka minta perhatian pemda dan itu sudah bukan kewenangan kami Pemda Sumbawa. Jangan-jangan orang luar Pemkab Sumbawa mengaku diri orang Sumbawa kan bisa jadi begitu kan? Intinya, kami tidak memiliki data sampai saat ini,” kata Bupati Husni sembari meminta bantuan kepada semua pihak untuk menelusuri siapa yang memberangkatkan mereka sehingga dicarikan solusinya secara bersama-sama.

Sementara itu Pimpinan DPRD Sumbawa, Syamsul Fikri mengapresiasi respon bupati lantaran sangat respek dengan berbagai persoalan mahasiswa/i yang mendapatkan beasiswa ke China.

Namun, ia menyayangkan program itu lantaran dinilainya tidak ada koordinasi dengan Pemda Sumbawa. Bahkan, ia mengaku tidak mengetahui soal adanya program kerjasama luar negeri dengan Pemda Sumbawa, begitupun DPRD Sumbawa.

“Ada kejadian virus corona di Wuhan negeri China, baru Pemda diminta merespon. Namun salut buat pak bupati yang responsif. Ini sebenarnya aneh, tidak ada program kerjasama dengan luar negeri pemda sumbawa. Karena kami DPRD tidak pernah mengetahuinya,” kata Fikri.

Berita Terkait:  Hasil Rapat, PDIP Resmi Tak Calonkan Husni Djibril

“Sekarang sekonyong-konyong pak Bupati diminta merespon, sementara program yang lain tentang kerjasama dengan negeri China tidak ada komentar. Maaf, kalau itu program Pemda maka Pemerintah Daerah wajib merespon dan kami DPRD meminta kepada pemerintah daerah untuk Responsif. Namun bila bukan program pemda Sumbawa, maka kita juga turut prihatin dan mencari solusi,” tambahnya lagi.

Mengingat begitu banyak respon terkait hal ini. Politisi asal Partai Demokrat itu meminta kepada semua pihak agar bagaimanapun tidak boleh menjastifikasi bahwa Pemda Sumbawa harus bertanggungjawab. Karena menurut dia, hal ini beresiko besar.

“Biar bagaimanapun tidak boleh menjastifikasi bahwa Pemda Sumbawa harus bertanggungjawab. Karena ini berkaitan dengan resiko besar tentang kerjasama luar negeri. Karena tidak pernah ada pengajuan Pemda dengan persetujuan DPRD tentang hal tersebut. Kalau ada, maka saya akan meminta pemda bertanggungjawab penuh. Kalau tidak ada, ya wajar pak Bupati tidak mengetahuinya,” demikian Ketua DPC Partai Demokrat Sumbawa tersebut.

Sementara itu, Gubernur NTB, H Zulkieflimansyah yang dimintai tanggapannya menyatakan dengan tegas bahwa keberangkatan mahasiswa bersangkutan bukan melalui beasiswa NTB.

“Bukan beasiswa NTB. Mereka lewat agen-agen,” kata Gubernur Kamis pagi (30/1) tadi di Mataram.

Meski bukan melalui beasiswa NTB, bagaimanapun menurut gubernur, mahasiswa yang ada di Taizhou tetap saja putra/i Nusa Tenggara Barat yang harus diperhatikan secara bersama-sama. “Kita perhatikan semua,” ucap Bang Zul.

Bahkan, lebih lanjut dikatakan orang nomor satu di NTB itu, pihaknya juga sedang berkomunikasi dengan pemerintah pusat.

“Jadi semuanya sedang dikoordinasikan dan kamipun berkonsultasi dengan pemerintah pusat supaya satu komando dan satu tindakan,” demikian Bang Zul.

Berdasarkan data yang dihimpun media ini, ada 12 orang yang kini sedang mengenyam pendidikan di Kampus Jiangsu Agri-Animal Husbandry. Mereka adalah warga Sumbawa yang tersebar dibeberapa kecamatan dan rata-rata lahir pada tahun 2000/2001.

Mereka adalah Gita Dwi Cahyani asal sekolah SMKN 1 Lunyuk, Tita Lia Riskika (SMKN 2 Sumbawa), Nur Azizah Apriani (SMKN 2 Sumbawa), Firzan Fanugrah (SMAN 1 Alas), Melda Putri Hayani (SMKN 1 Plampang), Linda (SMAN 3 Sumbawa).

Kemudian, Lala Aulia Nabila (SMK Mercury Sumbawa), Teddy Hariady (SMKN 1 Alas), Eigi Prasetya Hidayat (SMAN 2 Sumbawa), Yudi Wirawan Saputra (SMAN 2 Sumbawa), Akbar Sagito Putra (SMKN 3 Sumbawa) dan Apriansyah (SMAN 1 Lunyuk). (red)