Beranda HEADLINE Hina Partai, Akun FB Warga Mataram Dipolisikan

Hina Partai, Akun FB Warga Mataram Dipolisikan

BERBAGI

NUSRAMEDIA.COM, MATARAM — Akun facebook (FB) bernama ‘Ulwan Mustofa Ro’is’ nampaknya bakal berurusan dengan pihak kepolisian. Pasalnya, ia diduga melakukan pencemaran nama baik/ujaran kebencian atau penghinaan terhadap Partai PDI Perjuangan.

Kini Pengurus Dewan Pimpinan Cabang Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDI-P) di 10 kabupaten/kota NTB, melaporkan hal tersebut ke pihak Polda Nusa Tenggara Barat.

Akun tersebut dilaporkan lantaran mengunggah postingan yang dinilai sangat merugikan partai yang berlambangkan banteng bermoncong putih tersebut.

Salah satunya pada Group Ngopi (Ngobrol Politik) Mentaram yang menampilkan gambar ambulance partai yang berisikan pernyataan “Ambulance ini tempat menampung orang-orang korupsi”.

Wakil Ketua Bidang Hukum DPD PDIP NTB Abdul Tayeb mengatakan, terlapor telah melakukan tindakan pencemaran nama baik dan penghinaan serta penyebaran berita bohong alias hoak pada akun miliknya di media sosial Facebook.

“Postingan itu dilakukan oleh terlapor sekitar pukul 16.00 Wita tertanggal 25 Januari 2020 lalu. Yang pasti, akibat postingan itu kami dirugikan secara kepartaian,” ujarnya didampingi para kader PDIP se-NTB, kemarin.

Berita Terkait:  Sudah Minta Maaf, Ruslan Nilai Gubernur NTB Gentleman

Pelaporan itu menurut dia telah dikoordinasikan pihaknya dengan pengurus DPD dan DPP Partai. Apalagi, sebelum melakukan pelaporan telah pula dilakukan rapat DPD PDIP NTB yang diperluas dengan DPC PDIP di 10 kabupaten/kota di NTB pada Sabtu malam (25/1) lalu.

“Kedatangan kami ke Polda NTB, bagian kami diminta untuk cepat melapor dan membawa masalah ini melalui jalur hukum,” kata Tayeb.

Dalam postingan melalui akun yang sama itu pun terdapat rekaman pembicaran netizen yang memberikan komentar yang berbeda. Salah satunya, akun atas nama Firaasz Fayyadhi yang menyebutkan jika status yang dibuat terlapor itu sangat kejam.

Namun oleh pemilik akun yang memposting ungkapan mendeskreditkan partai itu, justru terlapor malah menjawab jika dirinya tidak takut.

“Parahnya, terlapor juga memposting berita hoak untuk kali kedua. Yakni, PDIP usul ke pemerintah agar pesantren di tutup seluruh Indonesia. Bagi kami, ini jelas masuk katagori tindakan menghina dan mencemarkan PDIP NTB,” ucapnya.

Berita Terkait:  NTB Perketat Pengawasan di Pelabuhan

Dalam laporan yang ditandanda tangani oleh Ketua DPD PDIP NTB H. Rachmat Hidayat bersama Sekretaris DPD HL. Budi Suryata itu. Tayeb menjelaskan, jika perbuatan terlapor sudah masuk unsur memenuhi UU ITE Nomor 19 tahun 2016 atas perubahan UU Nomor 11 tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik. Yakni, pada pasal 27 ayat (3) Jo Pasal 45 ayat (1)Jo Pasal 45A ayat (2).

“Atas postingan ini kami minta agar Polda NTB untuk cepat menangkap pelakunya. Karena sudah mengganggu suasana Kambtimas NTB yang saat ini kondusif. Apalagi, sebentar lagi seluruh partai tengah disibukkan dengan agenda Pilkada Serentak,” jelas Tayeb.

Sementara itu, Direktorat Reserse Kriminal Khusus (Ditreskrimsus) Polda NTB AKBP. I.G.P.G Ekawana, P. SIK usai berdialog dengan kader PDIP NTB, mengaku telah mendapatkan laporan tersebut dari pengurus salah satu partai.

Berita Terkait:  Bupati Minta Seluruh Kepala Desa Diaudit

Dalam laporan dan keterangan pelapor diduga terdapat pelanggaran oleh terlapor yang merupakan warga Kota Mataram. Sudah tugas kepolisian tambah Ekawana, untuk mencari fakta dan bukti serta membuktikan apakah laporan ini masuk tindak pidana atau bukan.

“Tadi ada penyidik melapor ke saya katanya ada dugaan pelanggaran oleh orang berinisial U. Kewajiban kami untuk mencari fakta-fakta pidana dan mengungkap kasus ini masuk unsur ini atau tidak. Nanti yang bersangkutan akan dipanggil. Masalah nanti kami buktikan tindak pidana atau bukan,” ujar Ekawana.

Ia memastikan, pihaknya akan serius memproses laporan PDIP NTB kali ini. “Jika sudah menyangkut ada yang dirugikan, maka kami akan memproses dan menindak lanjutinya. Apalagi, PDIP sangat koperatif dengan akan menyiapkan tiga orang saksinya,” demikian Ekawana. (red)