Beranda HEADLINE Butuh Kolaborasi Sikapi Kemiskinan di NTB

Butuh Kolaborasi Sikapi Kemiskinan di NTB

BERBAGI
Anggota Komisi V Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Provinsi NTB, TGH Hazmi Hamzar

MATARAM — Anggota DPRD Provinsi Nusa Tenggara Barat, TGH Hazmi Hamzar mengaku cukup prihatin dengan jumlah penduduk miskin di NTB. Terlebih dengan di rilisnya oleh Badan Pusat Statistik (BPS) NTB belum lama ini.

Dimana jumlah penduduk miskin di NTB bertambah cukup signifikan pada tahun 2020. Yakni hanya rentang waktu beberapa bulan ditahun yang sama. Menurut dia, ada beberapa faktor yang menyebabkan jumlah penduduk miskin di NTB bertambah.

“Pertama kita sudah diterpa gempa bumi pada 2018 lalu, dan itukan sampai hari ini masih menjadi PR untuk dijadikan perhatian bersama soal RTG (Pembangunan Rumah Tahan Gempa) bagi masyarakat yang menjadi korban,” ujarnya, Senin (22/2) di Mataram.

Berdasarkan kacamatanya, hingga saat ini masih banyak masyarakat yang menjadi korban gempabumi belum terurus. Dia juga mengaku, tidak mengetahui secara pasti apa yang menjadi kendala sehingga persoalan ini belum tuntas.

Kemudian, lanjut dia, pemerintah juga dinilainya perlu memberikan perhatian nyata kepada masyarakat, terutama para petani. Karena hal itu menurut dia juga sangat berdampak pada ekonomi masyarakat.

Dia melihat masih banyak hal yang belum diperhatikan oleh pemerintah. Antara lainnya sebut TGH Hazmi Hamzar, seperti soal sawah/ladang, akses jalan atau infratstruktur jembatan yang rusak. Ditambah lagi dengan aliran sungai yang tidak masuk ke sawah-sawah. Padahal persoalan air sangat penting dalam pengairan, terutama bagi para petani.

Berita Terkait:  Maksimalkan Peran Penyuluh sebagai Ujung Tombak Kesejahteraan Masyarakat

“Dan sekarang, ditambah lagi dengan corona ini. Ruang gerak masyarakat sangat terbatas, karena berbagai macam keadaan kita sekarang ini (sehingga jumlah penduduk miskin bertambah),” tuturnya.

Oleh karenanya, politisi gaek asal PPP ini memberikan saran kepada pemerintah agar berbagai persoalan yang dibutuhkan masyarakat terutama para petani, korban gempa dan lain sebagainya segera dijadikan perhatian.

“Irigasi-irigasi persawahan itu segera diperbaiki jangan dibiarkan rusak. Karena kalau itu dibiarkan masyarakat kan jadi kebingunngan, soalnya ini berkaitan dengan ekonomi,” kata pria yang kerap disapa Tuan Guru Hazmi ini.

Disamping hal itu, ada pula hal lainnya yang dinilai menjadi salah satu faktor penyebabnya jumlah penduduk miskin di NTB bertambah. Seperti, kata dia, dari sisi pendidikan. Yakni dinilainya masih banyak anak yang putus sekolah, kawin muda dan lainnya.

“Saran saya pemerintah harus segera mengambil inisiatif berkreasi. Gubernur, Bupati/Walikota semua harus punya kreasi dan mampu berinovasi. Nggak bisa satu macet, terus kemudian otak kita ikut macet,” katanya.

Berita Terkait:  Bejat! Ditinggal Istri jadi TKW, Seorang Ayah Tega Setubuhi Anak Kandungnya

“Apa jalan keluarnya. Inovasi betul jalan terus  setelah ini begini, setelah begini harus jalan terus. Jadi memang persoalan (kemiskinan) ini kita tidak bisa sendiri. Perlu ada kolaborasi dan kordinasi dengan kabupaten/kota supaya terkoneksi,” imbuhnya.

Maka dari itu, masih kata dia, pemerintah provinsi dan kabupaten/kota harus seirama dalam menyikapi setiap persoalan. Salah satunya persoalan kemiskinan yang hingga kini masih menjadi PR besar di NTB.

“Harus seirama, gotong royong dan di keroyok. Karena hal ini harus betul-betul terkoneksi dan terkoordinasi antara pemprov dan pemkab/pemkot, sehingga baru bisa mengatasi persoalan kemiskinan lebih cepat. Ini dalam rangka meningkatkan kualitas perekonomian masyarakat kita,” demikian TGH Hazmi Hamzar.

BERTAMBAH 32.150, JUMLAH PENDUDUK MISKIN DI NTB CAPAI 746.040 ORANG

Sebagaimana diberitakab sebelumnya, Koordinator Fungsi Statistik Sosial BPS NTB, Arrief Chandra Setiawan mengungkapkan bahwa, jumlah penduduk miskin pada September 2020 mencapai 14,23 persen dari total penduduk NTB sebanyak 5,32 juta orang.

Ini, kata dia, berdasarkan hasil sensus penduduk 2020. Dimana jumlah penduduk miskin di NTB pada September 2020 mencapai 746.040 orang atau bertambah 32.150 orang dibandingkan periode Maret ditahun yang sama.

Berita Terkait:  Gubernur NTB Dinilai Alergi Kritik, Hazmi : "Jangan Begitu, Ini Untuk Kebaikan Bersama"

Menurut dia, jumlah penduduk miskin di daerah perkotaan tercatat sebanyak 389.600 orang atau 15,05 persen, sedangkan penduduk miskin di daerah perdesaan sebesar 356.440 orang atau 13,42 persen.

Peranan komoditas makanan terhadap garis kemiskinan, lanjut Arrief, jauh lebih besar dibandingkan peranan komoditas bukan makanan (perumahan, sandang, pendidikan, dan kesehatan). Kondisi tersebut terjadi baik di perkotaan maupun perdesaan.

“September 2020 sumbangan garis kemiskinan makanan terhadap garis kemiskinan sebesar 74,78 persen untuk perkotaan dan 74,72 persen untuk perdesaan,” katanya.

Ditambahkannya, pada periode Maret-September2020, indeks kedalaman kemiskinan (P1) di NTB mengalami kenaikan dari 2,577 pada Maret menjadi 2,740 pada September 2020. Hal itu mengindikasikan bahwa rata-rata pengeluaran penduduk miskin di NTB, cenderung menjauh dari garis kemiskinan.

Tak hanya itu, ia juga nenyebutkan, untuk indeks keparahan kemiskinan (P2) juga mengalami peningkatan dari 0,611 pada Maret menjadi 0,730 pada September 2020. “Itu berarti kesenjangan diantara penduduk miskin semakin melebar,” tutup Arrief Chandra Setiawan. (red)