Beranda EKBIS Mitra Kerja Diharapkan Hidupkan KJA Non Aktif

Mitra Kerja Diharapkan Hidupkan KJA Non Aktif

BERBAGI

NUSRAMEDIA.COM, SUMBAWA — Dinas Kelautan dan Perikanan (Dislutkan) Kabupaten Sumbawa saat ini tengah fokus menghidupkan kembali sejumlah Kerambah Jaring Apung (KJA) yang sudah tidak difungsikan. Kehadiran perusahaan sebagai mitra kerja kelompok nelayan diharapkan menjadi salah satu cara mengatasi persoalan tersebut.

Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan (Dislutkan) Kabupaten Sumbawa melalui Kabid Perikanan Budidaya, Rahmat Hidayat menyebutkan, selama ini pihaknya banyak mendapatkan bantuan untuk kelompok terutama KJA.  Bantuan diberikan Kementerian Desa beberapa tahun lalu seperti di Pulau Bungin Alas, Labuhan Bajo Utan, dan Labuhan Jambu Tarano. Kemudian ada juga bantuan dari Kementerian Kelautan dan Perikanan di beberapa lokasi seperti di Prajak, Labuhan Sangoro dan Luk. Kegiatan budidaya di KJA tersebut dulunya sudah berjalan. Namun sekarang kondisinya sedikit terganggu, salah satu faktornya karena adanya kebijakan Menteri KKP yang terdahulu.

Berita Terkait:  Pemprov DKI Jakarta Tertarik dengan Produk Lokal NTB

“Dulu kegiatan ini sudah berjalan. Cuma terkait ada keijakan menteri yang lama kaitan dengan pengiriman barang terutama komoditas perikanan untuk ekspor, hanya ada dua titik yang bisa menerima. Kalau sebelumnya kapal luar bisa langsung merapat ke kerambah kelompok untuk membeli hasil kerambah. Kaitan dengan kebijakan itu, itulah yang menurut pengamatan kami merupakan salah satu faktor penyebab kegiatan budiaya KJA ini sedikit terganggu,” ujarnya, Kamis (20/2).

Ditegaskannyan, meskipun demikian, kondisi tersebut setidaknya bisa teratasi dengan kehadiran perusahaan yang menawarkan kemitraan dengan kelompok nelayan.

Berita Terkait:  Tiga Paket DAK Pasar Bapenda Segera Ditender

“Alhamdulillah kalaupun beberapa waktu lalu banyak kerambah yang kosong, mudahan kedepan dengan adanya calon mitra kerjasama dengan CV King Fish and Sea, kita coba mitrakan dengan kelompok melalui sistem kerjasama,” terangnya.

Pola kerjasama, kata Dayat, pihak perusahaan akan menyediakan bibit berupa ikan Sunu Halus Merah dan biaya pakan.  Setelah masa pemeliharaan sekitar 8 sampai 12 bulan, ikan akan dibeli oleh perusahaan dengan harga yang cukup bagus. Informasi awal harganya sekitar Rp 500 ribu perkilogram. Nantinya pembagian keuntungan, perhitungannya 25 persen untuk kelompok nelayan, 25 persen untuk perusahaan dan 50 persen untuk pemodal.

Berita Terkait:  Golden Palace Hotel Lombok Hadirkan Dua Menu Baru

“Selama ini mereka budidaya Kerapu Cantang atau Bawal Bintang. Itu di tingkat pasar biasanya hanya mampu menjual dengan harga Rp 50 sampai Rp 60 ribu perkilogram,” jelasnya.

Menurutnya, upaya ini untuk menghidupkan kembali kerambah. Sementara ini yang sudah berjalan yakni satu kelompok di Prajak sudah didroping bibit. Namun nantinya tidak menutup kemungkinan kelompok nelayan budidaya KJA lainnya juga disasar.

“Memang rencananya semua KJA di berbagai wilayah. Terhadap kerambah yang tidak terpakai dan tidak berfungsi, kita mencoba menghidupkan dengan sistem pola baru. Kita bantu bantu masyarakat ini dengan bibit gratis dan pakan. Nantinya kita bagi keuntungan,” pungkasnya. (red)