Beranda EKBIS Konversi Mitan ke Elpiji di Sumbawa Belum Berjalan

Konversi Mitan ke Elpiji di Sumbawa Belum Berjalan

BERBAGI
kata Kabag Ekonomi Setda Sumbawa - Irine Silviani., (Foto : Roby)

NUSRAMEDIA.COM, SUMBAWA — Distribusi tabung dan kompor gas di Kabupaten Sumbawa telah dituntaskan di Desember 2018 lalu. Jumlah paket yang dibagikan mencapai  83.204. Kecamatan Sumbawa  paling banyak,  yakni  8. 493 paket. Meskipun demikian, hingga saat ini konversi belum dapat berjalan.

Hal ini disampaikan Kabag Ekonomi Setda Sumbawa Irine Silviani, S.P., M.M., melalui Stafnya, Andi, kepada wartawan Rabu (15/5).

Menurutnya, sebetulnya  konversi belum berjalan di Kabupaten Sumbawa. Sebab, dalam keadaan infrastruktur belum ada (SPBE /Stasiun Pengisian Bult Elpiji),  barang sudah diedarkan melalui distribusi perdana sebanyak 83.204 paket. Akibatnya, setelah distribusi tuntas, kemudian gas sudah habis, masyarakat kebingungan dimana akan melakukan pengisian ulang (Refill).

Berita Terkait:  Kisah Terpuruknya “The Paragon Senggigi” yang Berubah Bangkit Optimis!

Dijelaskannya, dalam kondisi infrastruktur belum ada, tentu normatifnya atau di atas kertas, agen Sumbawa akan mengambil ke Pulau Lombok. Namun, pertimbangan agen  jika ini dilakukan, maka ini akan berdampak pada harga yang lebih tinggi. Karena di dalam proses ini, terdapat biaya angkut, biaya gudang serta biaya lainnya mesti dikeluarkan. Dan akan sangat mempengaruhi harga yang berdampak pada pelanggaran HET.

“Nah, inilah yang menyebabkan agen-agen Sumbawa belum berani ngambil ke Lombok, karena pasti akan melanggar atau melampaui HET. Agen mengambil ke Lombok tentu lebih mahal sehingga terjadi disparitas harga yang begitu tinggi.  Karena agen belum mau menjual di atas HET. Makanya belum ada refill yang diambil ke Lombok, sehingga begitu gas subsidi habis dipakai, masyarakat bingung mau ngisi kemana,” ujarnya.

Berita Terkait:  Tiga Paket DAK Pasar Bapenda Segera Ditender

Diungkapkannya, jika agen mengambil refill dari Lombok, maka untuk wilayah Timur akan mendapatkan harga Rp. 30 ribu/tabung. Karena titik Nol (0) suply pointnya di hitung dari SPBE.

Oleh karenanya, dalam rangka mencari solusi atas persoalan tersebut, Pemda Sumbawa katanya bersama DPRD Sumbawa dan Hiswana Migas Sumbawa membawa persoalan ini ke Pemerintah Provinsi.

“Kita meminta Pertamina melalui Pemprov, untuk bisa membantu biaya angkut ini selama infrastruktur SPBE belum terbangun. Mengapa kita minta Pertamina yang bantu biaya angkut, karena Pertamina yang punya gawe membangun SPBE. Kenapa kita meminta Pemprov, karena Kabupaten tidak memiliki kewenangan soal migas ini,” jelasnya.

Berita Terkait:  Miliki Potensi Besar, Pemanfaatan Budidaya Udang Baru 20 Persen

Terkaitnya informasi adanya revisi HET oleh Pemprov, menurutnya pada prinsipnya hal itu belum menyelesaikan persoalan.

“Karena belum ada refill, tabung sudah dibagikan, gas habis dipakai, lantas masyarakat ngisi kemana? Akhirnya, konsekuensinya, konversi belum terjadi di  Kabupaten Sumbawa. Jika  semua itu belum dilakukan, maka konsekuensinya jangan mengurangi minyak tanah,” pungkasnya. (NM3)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here