Beranda EKBIS Harga Garam di Lotim Rendah, Sumbawa Relatif Normal

Harga Garam di Lotim Rendah, Sumbawa Relatif Normal

BERBAGI
Kabid Perikanan Budi Daya Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) Kabupaten Sumbawa Rahmat Hidayat. (Foto : Roby Teja Sumantri)

NUSRAMEDIA.COM, SUMBAWA — Ditengah upaya pemerintah mewujudkan swasembada garam, pada saat yang sama nilai jual harga garam belum sepenuhnya menguntungkan petani garam. Rendahnya harga garam merupakan isu nasional.

Sejumlah wilayah di NTB, seperti di Kabupaten Lombok Timur, harga jual garam terbilang sangat rendah yakni Rp. 30 ribu hingga Rp. 35 ribu per 20 kg. Jika dibagi per kilogramnya hanya Rp. 1.500. Oleh petambak di sana, harga garam mestinya Rp. 100-150 ribu per 20 kg.

Sementara itu, di Kabupaten Sumbawa harga jual garam rata-rata Rp. 600-700/kg. Ini terbilang rendah jika dibandingkan dengan  dua tahun lalu, yakni di kisaran Rp. 3000/kg.

Kabid Perikanan Budi Daya Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) Kabupaten Sumbawa Rahmat Hidayat mengaku, sementara ini, harga garam di Kabupaten Sumbawa masih normal.

Berita Terkait:  Puluhan Hektar Sawah di Sumbawa Terancam Gagal Panen

“Harga standar yang diinginkan petambak paling tidak Rp. 700 sampai Rp. 1000. Itu harapan petambak,” ujarnya kepada wartawan, Jum’at (5/7)

Seperti halnya di Sentra garam di Desa Labuhan Bontong Kecamatan Tarano. Di sana kata Rahmat, sudah ada koperasi (Koperasi Tegar Sejahtera). Koperasi ini yang diharapkan dapat menyerap dan mempertahankan harga garam di lokasi setempat.

“Untuk sementara ini mereka masih menyerap garam rakyat. Kita harapkan koperasi itu minmal Rp. 600/kg . Jadi tidak boleh di bawah itu. Harga itu sudah ada keuntungan bagi petambak. Sebelum ada koperasi, harga garam berkisar Rp. 200 atau 300/kg. Namun karena modal koperasi di sana masih kecil, sehingga belum bisa menyerap secara keseluruhan garam produksi setempat. Ke depan ketika modal mereka lebih kuat, otomatis akan lebih mudah mempertahankan harga,” katanya.

Berita Terkait:  Jurus Pemprov NTB Bantu UMKM Akses Pasar

Sementara di  Sentra Garam Desa Labuhan Kuris Kecamatan Lape. Di sana koperasi membeli garam ke petambak dengan Rp. 2.500/kg. Tapi dengan spesifikasi tertentu yang diharapkan koperasi. Karena itu akan diolah untuk garam kemasan beryodium.

Setelah diolah, oleh Koperasi garam kemasan tersebut bisa dijual pedagang pasar tradisional Rp. 3.500/400 gram. Sehingga sampai ke konsumen  dengan harga Rp. 5000/400 gram.

Untuk sentra Garam yang berada di Labuhan Bajo Kecamatan Utan. Di sini menurutnya, petambak cukup kesulitan dalam hal memasarkan hasilnya.

“Biasanya mereka menjual ke Bali. Daerah ini merupakan daerah pengembangan baru. jadi belum berpengalaman menjual. Tahun lalau di sini Bisa sampai Rp. 1000/kg. Namun kemarin ada informasi dari kelompok di sana, belum ada pembeli,” ungkapnya.

Berita Terkait:  Gojek Dukung Industrialisasi dan Zero Waste

Menyikapi kondisi di Labuhan Bajo, pihak DKP sudah berupaya untuk mencari pasar guna memasarkan produksi petambak setempat.

“Untuk sementara langkah dinas  menyikapi kondisi di Bajo Utan, mencari link, kita telpon teman-teman di Bontong, Labuh kuris untuk mencari pasar. Ke depan kita dorong mereka bisa memproduksi garam beryodium seperti di Lape. Di beberapa titik masih berproduksi secara tradisional. Jadi masih KW 2. Ke depan kita dorong masuk kwalitas 1 supaya bisa diserap industri. Sementara ini, masih untuk konsumsi, pengelolaan ikan dan ternak,” tukasnya. (NM3)