Beranda EKBIS 60 Persen Gagal Tumbuh, Petani Keluhkan Kualitas Bibit Jagung Bantuan Provinsi

60 Persen Gagal Tumbuh, Petani Keluhkan Kualitas Bibit Jagung Bantuan Provinsi

BERBAGI

NUSRAMEDIA.COM, SUMBAWA — Bantuan bibit jagung, varietas JH 27 yang diberikan Pemprov NTB mendapatkan keluhan petani Sumbawa. Pasalnya daya tumbuh dari bantuan tersebut sangat rendah, sehingga menimbulkan kerugian.

Ketua Kelompok Tani Tiu Deneng, Desa Pelat, Kecamatan Unter Iwes, Efendi mengatakan, awalnya bantuan bibit ini diajukan ke PPL karena ada permintaan dari anggotanya. Dari PPL menyampaikan yang tersedia saat itu bantuan bibit  kelas 3 yakni varietas JH 27. Pihaknya pun menerima bibit karena anggotanya juga ingin secepatnya menanam. Apalagi berdasarkan penjelasan awal, bahwa bibit tersebut juga bagus dan bisa tumbuh. Tetapi setelah ditanam, banyak yang tidak tumbuh.

“Kalau bagus, bisa tumbuh itu saja intinya kami.  Informasinya bahwa bibit ini bagus, tetapi ternyata setelah kita coba tanam, ada tumbuh cuma jarang. Lebih banyak yang tidak tumbuh ketimbang tumbuh. Kalau dipersentasekan, mungkin 60 persen yang tidak ada,” ujarnya kepada wartawan, Rabu (15/5)

Luas lahan tanam yang ada di kelompok tani tiu deneng, ungkapnya, seluas 25 hektar. Dengan beranggotakan sekitar 48 orang, mereka mendapatkan bibit varietas JH 27 sebanyak 190 kilogram. Kemudian dari jumlah tersebut sebagian anggota sudah menanam bibit bantuan, dan sebagiannya lagi belum. Dari lima blok dalam kelompok, satu blok sudah menanam yakni sekitar 6 sampai 7 hektar. Sisanya belum sempat ditanam. Nantinya sisa yang tidak ditanam tersebut akan dikembalikan. Karena selain daya tumbuhnya rendah, ada juga terdapat bercak hitam dibiji sejumlah bibit.

Berita Terkait:  Program "Kampung Unggas" Mulai Membuahkan Hasil

“Kemudian saya kumpul bibit ini lagi sebanyak 17 dus terkumpul untuk mau dikembalikan ke sana. Rencana akan dikembalikan,” terangnya.

Diakuinya, terhadap lahan yang gagal tumbuh, terpaksa ditanam ulang menggunakan bibit lain yang didapatkan dari temannya. Karena untuk membeli bibit baru, dirinya dan petani lain sudah tidak memiliki cukup uang lagi.

“Yang sudah tanam kita lakukan tanam ulang. Untuk bibit kita minta ke teman, Karena kalau membeli bibit sudah tidak cukup uang. Karena sudah banyak kita rugi dari tanam dua kali dan bersihkan lahan,” aku Efendi.

Selain harus menanam ulang, ia juga mengalami kerugian. Diperkirakan dari dua kali melakukan penanaman dan sekaligus membersihkan lahan sudah mencapai sekitar Rp 1,5 juta. Nominal ini belum termasuk dengan biaya tenaga yang sudah dikeluarkan. Mengenai kerugian masing-masing petani, tergantung dari luas lahan yang ditanam.

Berita Terkait:  Hj Niken Sapa Pelaku Industri di Bima

“Beragam kerugiannya,” tambahnya.

Sementara ini, pihaknya sudah berkomunikasi dengan PPL dan disampaikan akan dilakukan pergantian bibit. Namun ia dan petani lainnya berharap bibit pengganti lebih berkualitas dan memiliki daya tumbuh yang tinggi.

“Kalau kami berharap Bisi 18, karena itu yang biasa kami tanam di sini,” imbuhnya.

Pihaknya berharap kedepannya, bantuan yang disalurkan ke petani dapat diperhatikan terlebih dahulu. Kemudian dipastikan kualitasnya yang bagus, sehingga nantinya petani tidak merugi saat menanam.

“Harapan kami petani, ketika memang ada bantuan berikanlah kami bantuan yang normal dan layak. Jangan seperti ini. Daripada diberikan yang tidak berkualitas, lebih baik tidak ketimbang kita rugi. Karena dua kali kita tanam,”terangnya.

Sementara, Kasi Produksi Tanaman Pangan Dinas Pertanian (Distan) Sumbawa, Abdul Majid, SP menyampaikan, bahwa bantuan  bibit  kualitas umum 2 dari pusat jauh sekali perbandingannya dengan bantuan dari provinsi  yakni kualitas umum 3.

“Katakan saja sampel kalau 1 hektar kebutuhan sama-sama 15 kilo per hektar.  Nah kemudian kalau kita berbicara produksi  dengan cara tanam yang sama,  kemudian sarana produksi yang sama, kalau kualitas umum 2 bisa mendapatkan hasil itu sampai  8 ton. Kalau kita berbicara kualitas umum 3 itu tentu dia dibawah standar. Artinya mainnya 3 sampai 4 ton. Itupun  sama-sama menggunakan produksi yang sama, pengairan yang bagus. Itu persoalannya,” paparnya.

Berita Terkait:  Pascagempa, Ekonomi NTB Terus Membaik 

Terhadap kualitas umum 3 yang merupakan kontrak provinsi, ada dua varietas yakni JH 27 dan HJ 21 Agritan. Namun ada juga bantuan dari pusat kualitas umum 2. Hanya saja karena anggaran yang terbatas, sehingga tidak semua bisa diberikan bantuan kualitas tersebut.

“Kami tadinya tidak mau kalau ada kontrak provinsi diberikan kepada petani  kualitas umum 3. Lebih baik sedikit kita dapat kontrak atau program pusat daripada  diberikan kita  program provinsi. Persoalannya kan tidak mencukupi dana, pasti larinya kesana. Jadi itu persoalannya. mau dan tidak mau harus mereka itu memberikan kualitas umum 3. Kenapa tidak semuanya kualitas umum 2 dari pusat, karena anggarannya terbatas,” pungkasnya.

poto: ketua kelompok tani tiu deneng, Desa Pelat, Kecamatan Unter Iwes, Efendi menunjakan benih jagung bantuan provinsi varietas JH 27 yang tidak tumbuh. (NM3)