Beranda ADVERTORIAL Mitigasi Bencana Merupakan Ikhtiar Meminimalisir Resiko Bencana

Mitigasi Bencana Merupakan Ikhtiar Meminimalisir Resiko Bencana

BERBAGI

Penulis : Ely Sugara, S.Pd (Praktisi Pendidikan)

NUSRAMEDIA.COM — Musibah bencana yang terus menerus terjadi telah menjadi “alarm alam” mengingatkan manusia akan kematian. Belum kering duka akibat gempa Lombok, kemudian disusuli  oleh gempa dan  tsunami palu, kini muncul duka baru, tsunami Banten. Bencana demi bencana terjadi seolah-olah alam tengah menyampaikan pesan berantai yang tidak seorangpun tahu akan berakhir dimana.

Menyoal bencana, misalnya saja gempa bumi. Ilmu Fisika telah menemukan jawaban penyebab gempa terjadi, yakni disebabkan adanya pergeseran lempeng bumi. Jawaban tersebut menyisakan pertanyaan baru, kenapa lempeng bumi bisa mengalami pergeseran?

Jawabannya yakni; bergesernya lempeng bumi disebabkan rotasi inti bumi berkebalikan  dengan rotasi permukaan bumi. Lantas, apakah jawaban ini final dan memuaskan?, absolutely, No!. Jawaban-jawaban itu akan memproduksi pertanyaan-pertanyaan baru yang tidak berkesudahan. Oleh karena itu, sebagai seorang muslim tentu kita menyikapi beragam bencana yang terjadi secara benar yaitu menjadikan syariat sebagai landasan berfikir (qoidah fikriyah).

Berita Terkait:  Respon Cepat, BPBD Bentuk Piket Siaga Darurat Bencana

Secara umum, ada 2 macam musibah/bencana; pertama, musibah yang disebabkan oleh faktor alam yang merupakan sunnatullah atau qodho (ketentuan) Allah SWT yang impossible untuk ditolak. Misalnya gempa bumi, tsunami, gunung meletus dan lain-lain  yang semestinya disikapi dengan sikap ridho dan sabar. Bagi kaum muslimin, qodho ini merupakan ujian dari Allah sebagaimana Allah berfirman:

“Sungguh Kami akan menguji kalian dengan sedikit rasa takut dan kelaparan. Juga berkurangnya harta, jiwa dan buah-buahan. Sampaikanlah kabar gembira kepada orang-orang yang sabar” (TQS al-Baqarah [2]: 155). Musibah yang menimpa kaum muslimin bisa jadi sarana mendelete dosa-dosanya dimana Rasulullah juga menyampaiakan bahwa tidaklah seorang muslim tertimpa musibah hingga tertusuk duri kecuali Allah pasti menghapus dosa-dosanya (HR. Bukhori & Muslim) tentunya dibarengi dengan keridhoan dan kesabaran terhadap qodho.

Berita Terkait:  Atasi Sampah, DLH Minim Armada dan Fasilitas

Kedua; Musibah yang disebabkan oleh berbagai kemaksiatan manusia dan pelanggarannya terhadap syariat Allah. Sebagaimana firman Allah SWT, “Telah tampak kerusakan di daratan dan di lautan akibat perbuatan tangan (kemaksiatan) manusia supaya Allah menimpakan kepada mereka sebagian akibat perbuatan (kemaksiatan) mereka itu agar mereka kembali (ke jalan-Nya) (TQS ar-Rum [30]: 41).”

Kedua macam musibah bencana ini menuntut adanya mitigasi berdasarkan jenisnya. Mitigasi Bencana jenis  pertama ialah dengan optimalisasi Sumber Daya Manusia dibidangnya dan aplikasi Produk Tekhnologi Pendekteksi Bencana, misal  Tsunami yg pada umumnya diawali dengan gempa bumi sudah semestinya membuat pemerintah khawatir akan keselamatan jiwa warga negaranya yang bisa jadi memakan korban massal sehingga peelu mengaplikasikan alat pendeteksi tsunami yang krusial dan urgen.

Sayangnya, pemerintah tidak serius dalam upaya mitigasi bencana ini, buktinya musibah yang baru-baru ini diselat sunda terjadi tanpa adanya peringatan (Republika.co.id 24/12/2018). Apakahtidak adanya peringatan itu mengindikasikan bahwa alat pendeteksi tsunaminya tidak ada atau tidak berfungsi?. Harusnya bencana tsunami sebelumnya sudah  menjadi pelajaran besar bagi pemerintah karena mitigasi bencana merupakan bagian dari tanggung jawab penguasa untuk melindungi rakyat yang diwajibkan oleh Islam.

Berita Terkait:  Perkuat Pengawasan Orang Asing, Imigrasi Sumbawa Gelar Rakor Tim Pora

Sementara mitigasi Jenis bencana kedua ialah dengan menutup rapat-rapat  segala pintu kemaksiatan. Karena kemaksiatan itulah yang menstimulus turunnya adzab Allah. terutama kedzoliman yang dilakukan penguasa kepada rakyatnya, perzinahan merajalela, riba merebak, dilegalkannya minuman keras, prostitusi, kekayaan alam yang diserahkan kepada asing dan aseng yang mengakibatkan kemiskinan yang diwariskan turun-temurun dan sederet kemaksiatan-kemaksiatan  lain yang memancing turunnya bencana. maka dari itu wahai kaum muslimin, tidak ada solusi tuntas selain solusi dari sang pencipta, yakni kembali kepada syariat Allah dengan menerapkannya diseluruh aspek kehidupan. (*)