Beranda ADVERTORIAL Kemiskinan dan Paradoks NTB Gemilang

Kemiskinan dan Paradoks NTB Gemilang

BERBAGI
Anggota DPRD Provinsi Nusa Tenggara Barat dari Fraksi Partai Kebangkitan Bangsa (PKB), Akhdiansyah atau kerap dipanggil Guru To'i.

Oleh : Akhdiansyah – Sekretaris Fraksi PKB DPRD Provinsi NTB

NUSRAMEDIA.COM, OPINI — Tanggal 17 Desember 2019, Provinsi Nusa Tenggara Barat genap berusia 61 tahun. Usia yang cukup tua dan telah mengalami pergantian estafet kepemimpinan Gubernur, dengan latar belakang dan program kebijakan pembangunan dijalankan dalam berbagai bidang, mulai dari pendidikan, kesehatan, pengentasan kemiskinan yang muaranya tentu sebagai upaya meningkatkan kesejahteraan masyarakat.

Layaknya sebuah pesta, HUT NTB, 17 Desember 2019 sejatinya dirayakan dengan kegembiraan, atas berbagai keberhasilan capaian program kerja pembangunan telah dijalankan, bukan sekedar kegiatan seremonial tahunan menghabiskan anggaran besar. HUT NTB juga harus dimaknai dan dijadikan bahan refleksi serta evaluasi sejauh mana keberhasilan dan capaian program pembangunan dijalankan gubernur, melalui visi misi dan program kerja dicanangkan sudah tercapai.

Program penanganan kemiskinan misalkan selalu menjadi sorotan dan menjadi pekerjaan rumah setiap gubernur yang diamanatkan masyarakat menahkodai Provinsi NTB. Tidak terkecuali pasangang Gubernur dan Wakil Gubernur NTB, Zulkiflimansyah dan Hj. Sitti Rohmi Djalilah (Zul-Rohmi) dengan visi NTB Gemilang.

Berita Terkait:  Tahun Ini, Pembangunan Fisik Pelebaran Jalan Garuda Ditunda

Jumlah penduduk miskin pada masa kepemimpinan Zul-Rohmi tidak banyak mengalami penurunan dan masih berkutat di angka 14 persen. Dalam kurung waktu September 2018 dan Maret 2019, Pemprov hanya mampu menurunkan angka kemiskinan sebesar 0,12 persen dan 0,07 persen.

Data Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi NTB, menyebutkan, jumlah penduduk miskin pada Maret 2019 tercatat sebesar 735,96 ribu orang (14,56 persen). Pemprov NTB hanya mampu menurunkan sebesar 0,07 persen dari September 2018, dimana jumlah penduduk miskin sebesar 735,62 ribu.

Penurunan kemiskinan secara angka tersebut juga tidak bisa sepenuhnya diklaim dan dijadikan tolak ukur, bahwa kemiskin di NTB menurun, karena masih sebatas angka kuantitatif, dalam kenyataannya ketimpangan sosial antara masyarakat miskin dan kaya masih banyak terjadi di tengah masyarakat, dimana salah satunya disebabkan akibat pembagian kue pembangunan kurang mengalami pemerataan.

Berita Terkait:  Warga Berhamburan, Gempa 5,3 SR Guncang NTB

Masalah kesehatan terutama Gizi buruk dan stunting juga masih menjadi pekerjaan rumah Pemprov NTB untuk dientaskan, dimana jumlahnya masih diatas rata – rata angka Nasional. Dimana untuk stunting Hasil Riset Kesehatan Dasar (Rikesda) Kementerian Kesehatan angkanya masih berkutat diangka 33 persen, demikian juga dengan kasus balita gizi kurang dan buruk.

Kondisi tersebut tentu sangat kontradiktif atau paradoks dengan visi NTB Gemilang yang digaungkan Zul – Rohmi, dengan sejumlah program unggulan dicanangkan selama lima tahun menjalankan pemerintahan.

Momentum HUT NTB sejatinya tidak sekedar kegiatan seremonial semata, tapi harus bisa menjadi momentum memacu semangat menjalankan program kerja pembangunan yang berorientasi pada hasil, bukan sekedar program kerja gagah – gahan dan terlihat populis, tapi tidak menjawab permasalah dihadapi masyarakat.

Berita Terkait:  Din Syamsuddin dan Kata Khilafah

Masih tingginya angka kemiskinan, pengangguran dan masalah kesehatan menjadi bukti, betapa program kerja pembangunan dijalankan Pemprov NTB selama ini belum sepenuhnya mampu menjawab permasalahan masyarakat, dengan perencanaan dan pemanfaatan APBD yang tidak efesien dan tepat sasaran.

Kerja – kerjam tim penanggulangan kemiskinan, staf ahli yang banyak dengan gaji besar meski harus lebih dimaksimalkan dan tidak sekedar duduk manis di belakang meja, bekerja asal bapak senang (ABS).

Paling penting program unggulan seperti Zero Waste, Posyandu juga harus bisa didorong menjadi program berkelanjutan, dengan benar – benar melibatkan peran serta masyarakat dari semua kalangan.

Bukan sekedar program lima tahunan sebagai ajang bagi – bagi jabatan dan proyek dengan simpatisan dan tim pemenangan, agar visi NTB Gemilang kedepan tidak sekedar selogan dan hayalan. (*)